BANGSAONLINE.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan pemantauan eskalasi dampak kekeringan yang meluas di tujuh kabupaten di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan pemetaan rinci dilakukan untuk memastikan respons penanganan darurat berjalan cepat dan tepat sasaran.
“BNPB terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan berkoordinasi dengan BPBD serta unsur terkait guna memastikan penanganan bencana berjalan optimal,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Data BNPB mencatat Kabupaten Cilacap sebagai wilayah dengan dampak terbesar, yakni 8.154 kepala keluarga atau 27.605 jiwa terdampak sejak Juni 2026. Pemerintah telah menyalurkan 315.000 liter air bersih melalui 60 tangki hingga 20 Juli.
Selain itu, Kabupaten Pemalang mencatat 5.346 kepala keluarga terdampak, sementara Klaten mencapai 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa. Bantuan air bersih di kedua wilayah mencapai 321 tangki atau 1,605 juta liter.
Wilayah lain yang terdampak di Jawa Tengah meliputi Banyumas (2.867 KK/9.002 jiwa), Grobogan (1.128 KK), dan Sragen (294 KK/736 jiwa). BPBD Sragen menyalurkan 10.000 liter air bersih ke Desa Galeh dan Desa Poleng, sedangkan BPBD Grobogan mendistribusikan 20.000 liter ke Desa Selo dan Monggot.
Tim gabungan BPBD dan PMI juga menyalurkan 81.000 liter air bersih di sana. Sedangkan untuk DIY, pemetaan mencatat dampak kekeringan di Kabupaten Kulon Progo yang melanda 63 kepala keluarga atau 176 jiwa di Kapanewon Kokap.
BNPB mengingatkan seluruh pemerintah daerah untuk menyiagakan posko kebencanaan serta mengantisipasi potensi perluasan krisis air bersih selama puncak musim kemarau. (rom)










