Harga Daging Sapi di Surabaya Naik Capai Rp140 Ribu per Kg Pasca-Iduladha

Ringkasan Berita
  • Harga daging sapi segar di Surabaya naik pasca-Iduladha menjadi Rp140 ribu per kilogram, berbeda dari pola sebelumnya yang biasanya turun setelah hari raya.
  • Kenaikan harga dipengaruhi oleh berkurangnya stok sapi siap potong di pasar tradisional Jawa Timur yang terus mengalami penurunan.
  • Harga daging di pasar tradisional bervariasi antara Rp120-140 ribu/kg, di mana kadar air menjadi faktor penentu; semakin rendah kadar air, semakin tinggi harganya.
  • Ketua pedagang menilai kekurangan stok berpotensi berlanjut tanpa langkah strategis pemerintah dalam pengembangan peternakan, yang telah diprediksi sejak 2012.

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Harga daging sapi segar di Surabaya mengalami kenaikan pasca-Iduladha seiring terus meningkatnya harga sapi siap potong. Jika sebelum Iduladha dijual sekitar Rp130 ribu per kilogram, kini harga daging segar mencapai Rp140 ribu per kilogram.

Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur (PPSDS Jatim), Muthowif, mengatakan kenaikan harga tersebut merupakan hasil pemantauan dan koordinasi dengan sejumlah pedagang di berbagai daerah di Jawa Timur.

"Padahal biasanya satu bulan pasca Iduladha harga selalu turun. Harga daging tergantung dari kualitasnya. Jika kadar airnya tinggi, maka harga daging Rp120.000," kata Muthowif dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, harga daging sapi segar di pasar tradisional cukup bervariasi, mulai Rp120 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas daging yang dijual.

Menurut Muthowif, perbedaan harga dipengaruhi oleh kadar air yang terkandung dalam daging. Semakin tinggi kadar air, harga daging cenderung lebih murah. Sebaliknya, daging dengan kadar air lebih rendah memiliki harga yang lebih tinggi.

"Sedangkan kondisi stok sapi siap potong di Jawa Timur terus mengalami kekurangan, kita bisa melihat dari kondisi di pasar sapi tradisional masing-masing kota dan kabupaten yang ada di Jawa Timur," terangnya.

Muthowif menambahkan, jumlah sapi siap potong yang diperdagangkan di pasar hewan tradisional di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi indikator berkurangnya stok sapi siap potong di wilayah tersebut.

Ia menilai, keterbatasan stok sapi potong berpotensi terus berlanjut apabila tidak diikuti langkah strategis dari pemerintah dalam pengembangan sektor peternakan.

"Terus berkurangnya stok sapi siap potong di Jawa Timur, sudah saya prediksi sejak tahun 2012, saat mengadakan mogok se-Jawa Timur. Oleh karena itu, saya berharap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi mampu membuat perencanaan yang bersifat strategis dan berkelanjutan," pungkasnya. (mdr/van)