Menbud Fadli Zon Tanggapi Fenomena Viral Gunung Kawi

Ringkasan Berita
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon menanggapi fenomena viral di Gunung Kawi sebagai bagian dari mozaik tradisi dan keragaman budaya Indonesia.
  • Fadli menyatakan fenomena budaya dapat diterima selama membawa kebaikan, mendatangkan ekonomi bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu atau merusak.
  • Pernyataan ini disampaikan dalam konteks penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, yang mengingatkan fondasi keberagaman dan toleransi bangsa.
  • Fenomena Gunung Kawi ramai diperbincangkan setelah kunjungan Pesulap Merah, Marcel Radhival, yang menyebut dugaan pesugihan dan ritual persembahan di lokasi tersebut.
  • Gunung Kawi merupakan kompleks makam yang kerap dikunjungi peziarah, terutama saat perayaan Tahun Baru Hijriah dengan prosesi kirab dan tabur bunga.

BANGSAONLINE.com - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, menanggapi fenomena viral di Gunung Kawi yang ramai diperbincangkan masyarakat. Menurut dia, fenomena tersebut sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia.

Hal itu disampaikan usai penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di TMII, Jakarta Timur, yang mana disebut sebagai pengingat bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman dan toleransi.

“Gunung Kawi ya, itu kan kita, keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi. Di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama,” ujarnya melalui keterangan pers yang diterima pada hari ini, Selasa (7/7/2026).

Fadli menekankan, setiap masyarakat memiliki pendekatan masing-masing dalam kebudayaan. Selama fenomena tersebut membawa kebaikan dan tidak mengganggu, menurutnya hal itu dapat diterima.

“Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu. Tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita,” paparnya.

Fenomena Gunung Kawi menjadi sorotan publik setelah kunjungan Pesulap Merah, Marcel Radhival, yang menyinggung dugaan pesugihan dan ritual persembahan.

Lokasi tersebut merupakan kompleks makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, yang kerap dikunjungi peziarah, terutama saat perayaan Tahun Baru Hijriah dengan prosesi kirab dan tabur bunga. (rom)