ACEH, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA kembali datang ke Aceh. Kali ini Kiai Asep datang untuk memberikan taushiah dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Aceh yang sekarang dipimpin Dr Tgk Furqan dengan Sekretaris Tgk Khasanda, M.Pd.
Acara pelantikan PW Pergunu Aceh itu berbarengan dengan pelantikan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) yang dipimpin Tgk Fauzal Fikra dan Sekretaris Tgk Fuanni di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh, Jumat (10/7/2026).
PW Pergunu yang baru itu dilantik oleh Dr Aris Adi Laksono, Sekjen PP Pergunu. Sedangkan PW JKSN dilantik oleh Muhammad Ghofirin, Sekjen JKSN.
Kiai Asep, selain ketua umum PP Pergunu, memang juga ketua umum PP JKSN.
Pengasuh Dayah Mahyal Ulum Abu Tgk H Faisal Ali mengucapkan terimakasih atas kehadiran Kiai Asep di Aceh dan Dayah Mahyal Ulum.
“Selamat datang Abah di Aceh dan di Mahyal Ulum. Beliau ini tokoh nasional kita. Tokoh pendidikan. Kami sampaikan kepada Bapak Kadis (Pendidikan) bahwa PP Pergunu di bawah Abah ini banyak memberikan beasiswa kepada anak-anak Aceh. Kalau dihitung beliau telah memberikan beasiswa lebih dari 100 orang di Aceh,” ujar Abu Faisal Ali, pengasuh Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah yang juga Ketua Tanfidziyah PWNU dan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI) Provinsi Aceh dalam sambutannya.
Tampak hadir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Murthalamuddin, S.Pd, MSP dan beberapa tokoh NU dalam acara tersebut.
Kiai Asep mengakui selama ini memang banyak memberikan beasiswa ke generasi muda NU di seluruh Indonesia. “Tiap tahun saya memberikan 600 beasiswa,” ujar Kiai Asep saat menyampaikan mau’idzah hasanah di depan para ulama dan guru NU Aceh yang memenuhi aula pertemuan malam itu.
Menurut Kiai Asep, beasiswa itu meliputi program S1, S2 dan S3 di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Dalam acara itu Kiai Asep juga menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp 80 juta untuk para korban banjir. Sumbangan itu secara simbolik diserahkan lewat Abu Tgk Faisal Ali sebagai Ketua PWNU Aceh.
Kiai Asep mengeluh karena dewasa ini bangsa Indonesia mengalami krisis pemimpin yang berintegritas. Kiai Asep mengajak masyarakat Aceh – terutama para ulama NU - mencetak empat pilar bangsa untuk menopang Indonesia maju, adil dan makmur, lewat dayah atau pondok pesantren.
Sebab, menurut Kiai Asep, hanya dayah atau pondok pesantren yang memiliki waktu panjang dan kulikulum yang fleksibel.
“Kalau SMA Negeri tidak mungkin,” ujarnya sembari menegaskan bahwa kurikulum SMA Negeri kaku dan harus patuh kepada kurikulum pemerintah pusat.
Empat pilar itu, pertama, adalah ulama-ulama besar dan ilmuwan-ilmuwan besar yang menerangi dunia, utamanya Indonesia. Ilmu itu, ujar Kiai Asep, harus dijadikan referensi oleh para birokrat yang mengelola negara atau pemerintahan.
Kedua, mencetak pemimpin bangsa Indonesia serta pemimpin dunia yang akan selalu mengupayakan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan, utamanya di negara Republik Indonesia.
“Tasyarraful imam ‘alarra’iyah manutun bil maslahah. Kiprah seorang pemimpin untuk rakyatnya harus diorientasikan untuk kepentingan rakyatnya. Hari ini, kita krisis kepemimpinan yang memiliki orientasi yang semacam itu,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu
Ketiga, mencetak konglomerat besar yang akan memberikan kontribusi maksimal terhadap terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia.
“Tentu di dalamnya juga kesejahteraan masyarakat Aceh,” tegas
Keempat, menciptakan professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.
Menurut Kiai Asep, untuk menciptakan empat pilar itu pesantren harus melakukan transformasi menjadi lembaga pendidikan berkualitas dan beritegritas. Kiai miliarder tapi dermawan itu menyebut berbagai komponen pesantren transformatif. Antara lain para gurunya harus terus menerus meningkatkan kualitas kompetensi.
Selain itu, kata Kiai Asep, seorang guru harus bisa menstrasfer ilmu kepada semua murid secara baik dan tanpa terkecuali. Jadi semua murid harus paham dan mengerti.
Menurut Kiai Asep, ilmu itu adalah mengerti atau paham.
“Al Ilmu huwal fahmu. Knowledge is understanding,” ujar Kiai Asep.
Kiai Asep juga menekankan bahwa guru harus menjadi teladan moral.
“Jangan ada kata pelecehan,” ujarnya sembari mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam ada kewajiban puasa. “Puasa itu imsak, menahan diri,” ujarnya.
Kiai Asep juga menekankan jangan sampai ada buliying di dayah atau pesantren.
Selain itu, menurut Kiai Asep, seorang guru harus selalu mendoakan murid. “Kata Rasulullah saya kepada para sahabat seperti anak saya sendiri, ujarnya.
Menurut Kiai Asep, jika kita mendoakan murid atau santri kita otomatis kita akan mendoakan anak-anak kita sendiri. Karena dalam aturan berdoa, sebelum mendoakan orang lain kita harus mendoakan diri kita dan keluarga kita terlebih dulu.
Kiai Asep mengungkap pengalaman pribadinya. “Saya tak pernah ngurus anak saya. Tapi selalu mendoakan anak saya,” ujarnya sembari menyebut bahwa putra-putrinya ada yang jadi anggota DPR RI, bupati, dokter spesialis dan sekolah di Inggris.
NU PESANTREN BESAR
Sebelum menghadiri pelantikan Pergunu dan JKSN, Kiai Asep sempat melakukan silaturahim dengan Ketua PWNU Aceh Abu Tgk H. Faisal Ali dan sejumlah PCNU di Kantor Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Dalam pertemuan dengan pengurus NU itu Tengku Faisal mempersilakan Kiai Asep memberikan taushiyah, termasuk soal Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27 Juli di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur.
Dalam acara itu Kiai Asep menyampaikan sejarah kelahiran NU. Menurut Kiai Asep, ada dua tujuan NU didirikan oleh para muassis, yaitu Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Chalim dan para kiai NU lainnya.
Pertama, tegas Kiai Asep, untuk mengawal dan mengembangkan paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Kedua, untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Pesantren merupakan pusat perlawanan terhadap penjajah. Tapi saat itu mudah dipatahkan oleh penjajah karena berjuang sendiri-sendiri,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, perjuangan ulama dayah atau pesantren baru efektif dan berhasil ketika mendirikan NU. Karena perjuangan ulama dayah atau pesantren mulai terorganisasi dengan baik.
“Ketika NU berdiri, penjajah merasakan bahwa bangsa ini akan merdeka,” tutur Kiai Asep.
Namun Kiai Asep kini mengaku kecewa karena PBNU konflik tak kunjung selesai. Padahal konflik PBNU itu, menurut Kiai Asep, sangat berpengaruh terhadap kehidupan dayah atau pesantren.
Kiai Asep mengutip dawuh atau pernyataan KH Nurul Huda Djazuli (Gus Da), pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur yang belum berselang menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU.
“Kata Kiai Nurul Huda, pesantren goncang, karena PBNU goncang,” ujar Kiai Asep yang memiliki puluhan ribu santri dan banyak diterima di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) seperti UI, UGM, Unair, ITB, ITS dan luar negeri seperti Mesir, Maroko, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab (UEA) dan negara lainnya.
Menurut Kiai Asep, banyaknya buliying dan peristiwa negatif di pesantren tak lepas dari kasus PBNU yang goncang.
“NU itu pesantren besar,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.
Aacara yang yang berakhir pada sore hari itu diakhiri doa yang dipimpin Kiai Asep. Putra pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI KH Abdul Chalim itu berdoa semoga dalam Muktamar ke-35 NU yang akan datang terpilih pemimpin yang benar-benar bersih, berintegritas, dan berakhlak sesuai harapan para muassis NU.
Acara itu diakhiri foto bersama di depan kantor Majelis Permusyaratan Ulama alias MPU Aceh.










