PCNU Surabaya Dorong Peran Santri dan NU Diakomodasi Lebih Utuh dalam Penulisan Sejarah Nasional

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Wakil Ketua PCNU Kota Surabaya Riadi Ngasiran menegaskan peran Nahdlatul Ulama (NU), kaum santri, dan umat Islam harus mendapat tempat yang proporsional dalam penulisan Sejarah Nasional Indonesia.

Menurutnya, penulisan Sejarah Nasional Indonesia harus dilakukan secara objektif dan adil dengan mempertimbangkan kontribusi umat Islam, khususnya kaum santri, mulai dari masa pergerakan kemerdekaan, Revolusi Nasional Indonesia, hingga perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada era kontemporer.

"Penulisan Sejarah Nasional Indonesia lazimnya bersifat objektif dan fair, mempertimbangkan peran-peran umat Islam, khususnya kaum santri, baik dalam Pergerakan Kemerdekaan, masa Revolusi Nasional Indonesia, hingga pada eksistensi Negara Republik Indonesia alias sejarah kontemporer kita," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Riadi saat menjadi narasumber dalam Forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah yang diselenggarakan PC ISNU Kota Mojokerto di Kantor PCNU Kota Mojokerto, Jumat (24/7/2026) malam.

Kegiatan itu dibuka Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Mojokerto KH Moh. Shodiqin Marzuqon dan dipandu Ketua PC ISNU Kota Mojokerto Gus Saiful Amin.

Forum tersebut diikuti kader NU dari berbagai unsur, mulai Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN), IPNU, IPPNU, GP Ansor, hingga perwakilan MWCNU se-Kota Mojokerto.

Riadi yang juga sejarawan NU mengatakan historiografi nasional harus mempertimbangkan berbagai sumber sejarah, baik berupa dokumen, sejarah lisan, maupun memoar tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama dan pejuang Islam.

"Peran Sejarah umat Islam, khususnya kaum santri dan Nahdlatul Ulama yang selama ini ditempatkan di pinggiran (peripherial) haruslah digeser ke Tengah Percaturan Peran untuk menghadirkan Sejarah Nasional secara objektif dan utuh. Untuk diperlukan ketersediaan data dan sumber penulisan yang komperehensif," tutur pengkaji Sejarah Gerakan Bawah Tanah Circle Sjahririan.

Ia mengingatkan dokumen dan arsip Nahdlatul Ulama kini telah menjadi bagian dari Arsip Nasional sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber primer dalam penulisan sejarah nasional Indonesia kontemporer.

Pada kesempatan itu, Riadi juga menekankan pentingnya penulisan sejarah NU di tingkat lokal.

Menurutnya, penulisan sejarah NU dalam konteks sejarah nasional membutuhkan data yang valid, baik dari sumber primer maupun sekunder, termasuk sejarah NU di tingkat cabang dan wilayah.

"Penulisan Sejarah NU di tingkat lokal (baik Cabang maupun Wilayah NU), memberikan panorama zaman dan cata pandang dengan pemikiran lateral yang bisa menggambarkan spirit zaman dan suasana yang melatarbelakanginya," tegas Tim Kreatif Film Dokumenter Museum Nahdlatul Ulama ini.

Menurutnya, peran tokoh-tokoh sejarah di tingkat lokal memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama secara nasional.

Ia menilai sejarah tidak hanya menghadirkan tokoh-tokoh besar, tetapi juga perlu memberi ruang bagi peran para pelaku di berbagai tingkatan.

"Di sinilah, etersediaan dokumen, data, sumber primer dalam penulisan Sejarah Lokal dan Sejarah Nahdlatul Ulama secara Nasional, membuka peluang bagi penulisan Sejarah yang lebih utuh. Demikian pula pentingnya, memerhatikan panorama zaman keterkaitan dengan pergerakan sejarah dunia di kawasan lain selain Indonesia," kata Riadi Ngasiran.