Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 42-44. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
42. Wa iy yukadzdzibûka fa qad kadzdzabat qablahum qaumu nûḫiw wa ‘âduw wa tsamûd
Jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan engkau (Nabi Muhammad), sungguh, sebelum mereka, kaum (Nabi) Nuh, ‘Ad, dan Samud telah mendustakan (para rasul).
43. Wa qaumu ibrâhîma wa qaumu lûth
(Demikian juga) kaum (Nabi) Ibrahim dan kaum (Nabi) Lut.
44. Wa ash-ḫâbu madyan, wa kudzdziba mûsâ fa amlaitu lil-kâfirîna tsumma akhadztuhum, fa kaifa kâna nakîr
(Begitu juga) penduduk Madyan. Musa (juga) telah didustakan. Namun, Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir, kemudian Aku siksa mereka. Maka, betapa kuatnya pengingkaran-Ku (terhadap sikap mereka).
TAFSIR
Ayat kaji ini bersfungsi sebagai “tasliyah”, hiburan bagi Rasulullah SAW yang didustakan kaumnya sendiri. Tidak digubris, apalagi didengarkan. Kalau toh didengarkan, tentu saja diabaikan, bahkan telinga mereka ditutup terang-terangan. Lebih dari itu, mereka memusuhi, mencelakai, dan bahkan bernafsu hendak menghabisi.
Seolah Tuhan berbisik: “Janganlah bersedih wahai utusan-Ku, kaum terdahulu juga mendustakan nabi mereka. Jadi tidak kamu saja yang diperlakukan begitu. Para Rasul terdahulu, bahkan lebih ngeri dan menyakitkan. Meski begitu, Tuhan-mu tetap membantu dan melindungi”.
Memang benar, bahwa tantangan terhadap Rasulullah SAW tidak saja bersifat makro, melainkan dari pribadi juga. Seperti dilakukan Rukanah, petarung berbodi raksasa, kekar, dan seram. Seantero arab tak ada yang bisa mengalahkan.
“Hai Muhammad, katanya Tuhanmu maha perkasa, tunjukkan keperkasaan-Nya padaku. Kamu, bertarunglah melawan aku dan memintalah bantuan kepada-Nya”.
Rasulullah SAW memandang tantangan ini sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaan Tuhan. Lantas menyanggupi dengan syarat: “Aku menerima tantanganmu wahai Rukanah, asal ada syarat. Jika aku menang, maka kamu harus mengakui Tuhanku, kamu harus memeluk islam”, yang segera disanggupi oleh Rukanah.
Duel terjadi dan disaksikan orang banyak. Tak butuh waktu lama, Rukanah ditumbangkan tergeletak di tanah. Lalu perlahan bengkit dengan suara congkak: “Itu kebetulan, aku terpeleset. Ayo bertarung lagi, serang aku”.
Ronde kedua dimulai dan Rasulullah SAW dengan mudah membanting Rukanah, ndelosor mencium tanah. Dia makin marah dan mengajak tarung lagi untuk ketiga kalinya, ronde penentuan. Rasul mulia itu bersiap, dan dengan gerakan mukjizat, Rukanah ditaklukkan tak berdaya. Rukanah – akhirnya - bersyahadat dan memeluk islam”. Kiai, penting juga sakti dan jagoan.
“ ... Fa-amlait li al-ladzin kafaru ...”. Tuhan, acap kali membiarkan orang-orang kafir, orang-orang durkaha itu nyaman-nyaman saja hidupnya. Rezekinya banyak dan badannya sehat. Apa yang diangankan terkabul, sehingga agama semakin tak dipercaya dan Tuhan semakin diremehkan. “Hah, kualat itu tidak ada, tidak akan menimpa karena perbuatan kami”.
Potongan ayat ini sangat mengerikan. Bagaimana tidak, Tuhan sudah mengerti mereka berbuat durhaka, menyakiti, dan menjahati, zalim dan menyombangkan diri. Tetapi Tuhan membiarkan, “fa-amlaitu li al-ladzin kafaru”, seolah tidak ada pengawasan Tuhan dan tak ada tindakan apa-apa.
Ternyata pembiaran Tuhan tersebut justru gaya mengazab-Nya yang super pedih dan sangat mengerikan. Kata-Nya: “tsumm akhadztuhum fakaif kan nakir”. Sengaja Kami biarkan dulu sampai puas, baru Kami tindak secara mengejutkan dan mengerikan.
Jadi, sesungguhnya tanda seseorang yang dikasihi Tuhan itu adalah cepat diingatkan dan sadar. Apapun bentuk peringatannya meskipun itu menyakitkan, tidak mengenakkan, seperti jatuh sakit dan lain-lain.
Kesadaran itu selanjutnya mengantarnya beristighfar, menghapus dosa dan melangkah ke depan lebih agamis dan hati-hati. Tentu saja adzab di akhirat nanti berkurang atau tak ada sama sekali. Ya, karena sudah ditimpakan saat di dunia dan diterima secara sabar.
Berbeda dengan orang yang tidak pernah ditegur Tuhan. Meskipun berbuat dosa, manjahati orang lain, durhaka kepada orang tua, tetapi hidupnya masih nyaman-nyaman saja. Wah, ini justru yang sangat berbahaya. Sadarilah, bahwa Tuhan sedang mengkumulasikan azab dan bakal ditimpakan nanti di akhirat secara totalitas dan brutal. “dan tak ada yang bisa selamat dari ini. “... Fakaif kana nakir.”.
Untuk itu, pandangan kaum sufistik perihal teguran dan rahmat Tuhan itu tidak tentumpu pada enak dan tidak enak secara duniawi saja. Orang sakit, kecelakaan, rezeki berkurang tidak berarti kualat dan dibenci Tuhan. Orang sehat, mapan, banyak rezeki tidaklah berarti dicintai Tuhan. semua itu adalah rahmat-Nya.
Justru menjadi fatal bila orang beriman punya anggapan demikian. Misalnya ada dua orang berseteru, si Fulan dan si Boy. Boy yang terkenal berakhlaq bagus, berderma, dan tekun beribadah, jatuh sakit atau kecelakaan saat berseteru. Lalu si Fulan angkat kepala: “Lho, itu buktinya, saya yang benar. Kamu dikutuk Tuhan, kualat”.
Padahal, yang buruk akhlaq adalah si Fulan, tidak pernah shalat berjamaah, tidak akrab di masyarakat, tidak punya pengabdian agama, dan sukanya berprasangka buruk kepada orang lain. Dia sombong merasa punya kuasa, hobi menzalimi dan selalu menang dalam banyak perkara. Merasa punya uang, punya dukun, punya dekengan dan lain-lain.
Lagak begini Ini sungguh sangat berbahaya. Sudah salah, ditambah makin bangga dan merasa disayang Tuhan. Lalu makin berani menzalimi, makin pede merugikan orang lain. Percayalah, tindakan Tuhan pasti ada. Biasanya, orang macm ini ibadahnya buruk dan sengsara pada masa tuanya.










