Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 47. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
47. Wa yasta‘jilûnaka bil-‘adzâbi wa lay yukhlifallâhu wa‘dah, wa inna yauman ‘inda rabbika ka'alfi sanatim mimmâ ta‘uddûn
Mereka (kaum musyrik Makkah) meminta kepadamu (Nabi Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
TAFSIR
Ujung ayat kaji nomor 47 al-Hajj menunjuk begitu, bahwa satu hari akhirat sama dengan seribu tahun hari dunia. “wa inn yauma ‘ind Rabbik ka’alf sanah mimma ta’uddun”.
Terma ini sebagai jawaban atas orang-orang kafir, semisal al-Nadlr ibn al-Harits, Abu Jahal, dan lain-lain yang congkak dan menantang Tuhan. Jika Tuhan benar-benar ada dan maha kuasa, kenapa diam saja saat kami ingkar, saat kami memusuhi utusan-Nya. Silakan menurunkan azab kepada kami, sekarang juga dan kami siap.
Ditantang demikian, Tuhan memberi jawaban, bahwa mengazab itu sangat mudah. Tinggal berkehendak saja, azab dunia pasti patuh. Ya, tapi Tuhan tidak pernah gegabah dan tidak pernah pula ingkar terhadap firman-Nya Sendiri. Tuhan selalu menepati janji, sesuai dengan iradah dan kebijakan-Nya.
Jika satu tahun sama dengan 365 hari, sedangkan pada ayat ini dinyatakan sehari sama dengan 1.000 tahun, maka perbandingannya sama dengan satu berbanding 365.000. Jika kita berbuat dosa dan dihukum satu hari saja menurut hari akhirat, maka lama hukuman tersebut sama dengan 365.000 hari dunia. Astaghfirullah al-adhim.
Dan, apakah ini berlaku juga untuk amal kebaikan? Yakni, bila kita beramal baik dan diberi pahala kenikmatan sehari akhirat, apakah berarti sama dengan 365.000 dunia?
Pendekatan mafhum mukhalafah dan keadilan Tuhan, harusnya begitu, bahkan rahmat Tuhan lebih luas dari segala sesuatu. Artinya, untuk rahmat akhirat bisa lebih dari standar itu.
Sebab masuk surga, balasan baik di akhirat itu bukan atas dasar keadilan-Nya, itung-itungan dan matematis. Satu kebaikan dibalas satu pahala, melainkan atas dasar rahmat-Nya. Di mana rahmat yang dikucurkan Tuhan kepada si pelaku kebaikan sangatlah melampaui dan tidak sebanding.
Seseorang yang dikenal sebagai pria super shalih dan beribadah sepanjang usia, tak pernah sedikit pun melakukan perbuatan maksiat. Lalu di akhirat diberi balasan surga. Kemudian ditanya oleh Tuhan: "Anda kok bisa masuk surga, karena apa?".
Dengan tegas pria itu menjawab: "Tentu saja karena amal ibadah saya. Sepanjang 80 tahun usia saya, saya selalu beribadah dan berbuat baik serta tidak pernah maksiat sedikitpun".
Tuhan tersenyum dan berkata: "Baiklah, kalau begitu kamu mendapat pahala kenikmatan surga selama 80 tahun, tidak selamaya di surga-KU ini, imbang dengan amal anda. Setelah itu, anda harus keluar".
Mendengar jawaban Tuhan setajam itu, apalagi ada kalimat pengusiran dari surga, pria tersebut menyadari dan memohon ampunan, karena kebutaannya atas rahmat Tuhan yang sangat besar dan tak terbatas, karena kebanggaannya atas amal ibadah sendiri.
Pemahaman lain dari ayat ini adalah, bahwa, seburuk apapun keadaan di dunia, dari melarat, ujian berat, tertekan, tertindas, dan sebagainya, itu sangat kecil dibanding hari-hari panjang hidup di akhirat. Arahnya, jika kita beribadah dan memperjuangkan agama Allah, maka janganlah mengeluh. Dunia itu hanya sebentar dan sangat kecil di banding akhirat.
Pesan lain adalah, bahwa manusia mesti sadar dan terus menerus sadar, bahwa hidup di dunia itu sangat singkat dan pada waktunya pasti meninggalkannya. Untuk itu, menggunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin untuk perbuatan baik adalah perintah agama.
Perhatikan siswa atau mahasiswa yang beneran menuntut ilmu dan sedang mengahadap ujian semesteran atau ujian akhir. Dia terus tekun belajar dan tidak mau menyia-nyiakan waktu. Tujuannya agar lulus dan mendapatkan nilai yang baik.
Rasanya, dua puluh empat jam dalam sehari semalam itu kurang. Ingin punya waktu banyak demi belajar yang banyak. Baru membaca ini, sudah jam sekian. Baru saja membaca itu, sudah jam sekian. Seperti itulah orang beriman mempersiapkan hari akhirat.










