Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 46. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
46. A fa lam yasîrû fil-ardli fa takûna lahum qulûbuy ya‘qilûna bihâ au âdzânuy yasma‘ûna bihâ, fa innahâ lâ ta‘mal-abshâru wa lâkin ta‘mal-qulûbullatî fish-shudûr
Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.
TAFSIR
Ayat sebelumnya bertutur tentang prestasi orang-orang terdahulu. Dinyatakan sebagai hebat dalam berkarya, termasuk gedung-gedung pencakar langit, megah, dan kokoh (qashr masyid). Tetapi runtuh dan hangus, tinggal puing-puingnya saja yang tak bermanfaat. Hal itu karena mereka durhaka kepada Tuhan.
Pesan ayat tersebut adalah, jangan sampai generasi berikut mengalami hal yang sama. Pinter, maju, kreatif, tapi congkak. Meremehkan peran keimanan yang diwejang agama. Ilmu dan pengetahuan yang ada di otak, kekuasaan yang ada di tangan dianggapnya abadi, sehingga lupa terhadap iradah Allah SWT yang mutlak.
Lalu, ayat kaji ini memerintahkan kita agar belajar dari masa lalu. Agar melakukan penelitian, membaca sejarah, dan mengambil hikmahnya. Umat terdahulu terperosok dalam kepongahan yang membutakan. Maka jangan terperosok ke lubang yang sama.
Dikatakan, mereka punya hati, punya akal, tetapi tidak bisa memanfaatkannya sebagai olah fikir yang produktif, olah rasa yang positif. “lahum qulub la ya’qilun biha”.
Mereka punya telinga, tetapi tidak dipakai untuk mendengarkan yang baik. “lahum adzan la yasma’un biha”. Memang matanya sehat dan tidak buta, tapi hatinya yang buta, “fa innaha la ta’ma al-abshar wa lakin ta’ma al-qulub al-lati fi al-shudur”.
Ini sebuah sindiran kepada setiap peziarah ke situs-situs bersejarah, hendaknya bisa mengambil hikmah dari apa yang dia saksikan. Sudah jelas, patokannya adalah keimanan dan amal shalih. Sudah jelas patokannya adalah kepatuhan dan kesopanan. Bukan congkak dan durhaka. Meski kafir, tapi jangan nantang-nantang dan menyepelekan Tuhan.
Apa tidak belajar dari Firaun yang mengaku sebagai tuhan tertinggi. Apa tidak belajar dari Abraha, raja bengis Yaman yang ngeluruk ke Makkah hendak mengahncurkan rumah Allah SWT.
Gazuza, perokok berat dari negeri sono yang congkak dan tidak takut apa-apa. Ketika dinasihati temannya dengan wejangan kesehatan dan pendekatan agama, dengan gaya mengejek dia malah mengepulkan asap rokok ke depan sembari menengadah ke langit dan berkata: “It is for You, my God”, Ini... untukMU, Tuhan ..”.
Tidak berselang lama, tanpa diduga dia mati mendadak dan mengenaskan. Dokter mendiagnosis, karena serangan jantung yang super aneh, sehingga memperparah kanker yang ada. Kanker itu tiba-tiba mengganas secara cepat, presisi, dan tak mungkin dihentikan.










