Miskin Gizi, Menu MBG di Kota Surabaya Makin Memprihatinkan

Ringkasan Berita
  • Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya dinilai tidak memenuhi standar gizi, dengan lauk hanya satu kerat tahu kecil, sayur, dan tiga butir klengkeng kecil.
  • Penerima MBG mengaku tidak memakannya dan memberikannya ke pembantu, menyebut program ini pemborosan anggaran yang justru membuat keuangan negara makin paceklik.
  • Pelaksanaan MBG dikritik sebagai bisnis serampangan pemilik dapur yang dianggap tidak nasionalis, padahal disebut mendapat Rp 6 juta per hari.
  • Anggaran besar MBG diduga menyedot dana APBN dari pos pendidikan, kesehatan, dan transfer daerah, namun hasilnya dinilai mubadzir dan minus gizi.
  • Solusi yang disarankan adalah anggaran MBG sebaiknya diberikan langsung ke kantin sekolah agar lebih tepat sasaran dan menghindari penyimpangan.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Menu Makan Bergizi Gratis (MGB) di Kota Surabaya makin memprihatinkan. Pantauan BANGSAONLINE di kota Surabaya, hari ini, Senin 3 Agustus 2026, menu yang disajikan jauh dari pemenuhan gizi. Lauknya hanya satu kerat tahu. Sekali lagi, satu kerat tahu kecil. Buahnya 3 butir klengkeng yang juga kecil. Lalu sayur dan ada lagi berupa kuah.

“Silakan lihat sendiri. Ini menunya,” ujar seseorang yang salah seorang keluarganya menerima kiriman MBG di kawasan Kelurahan Pacar Kembang Kecamatan Tambaksari Kota Surabaya, Senin (3/8/2026).

“Tapi MBG itu tidak dimakan. Saya kasihkan pembantu. Kan eman hanya buang-buang anggaran,” ujarnya.

“Ini MBG di tengah kota Surabaya. Yang katanya Kota metropolitan. Apalagi di daerah-daerah yang jauh dan terpencil,” ujarnya lagi.

Menurut dia, ini bukan lagi makanan bergizi gratis. “Tapi makanan miskin gizi atau minus gizi,” tambahnya.

Ia mengaku heran kenapa pemerintah – terutama Presiden Prabowo Subianto – tak mau mendengarkan suara rakyat. Padahal, tegas dia, program MBG ini jelas-jelas menyedot anggaran besar APBN sampai-sampai keuangan negara makin paceklik.

“Bukan hanya dana pendidikan dan kesehatan serta pos lain yang dihabiskan tapi juga dana transfer daerah,” ujarnya.

Padahal banyak mubadzirnya. “Ya, buktinya banyak yang gak dimakan. Kalau toh dimakan tetap gizinya gak memenuhi syarat," ujarnya.

Menurut dia, anggaran MBG itu lebih baik diberikan langsung ke kantin sekolah agar tidak dijadikan obyek bisnis secara serampangan oleh pemilik dapur yg tak punya rasa nasionalisme dan kemanusiaan.

“Padahal pemilik dapur itu katanya dapat Rp 6 juta tiap hari,” ujarnya.