Kemarau Dua Bulan, Ratusan Warga Desa Banyuurip Ngawi Terpaksa Berjalan Kiloan Meter Demi Air Bersih

Ringkasan Berita
  • Musim kemarau baru dua bulan di Ngawi telah menyebabkan krisis air bersih, memaksa ratusan warga Dusun Tambak Selo berjalan 2-3 km ke sumur tua di area persawahan untuk mendapatkan air.
  • Warga harus bolak-balik 5 hingga 10 kali per hari dengan memikul ember dan galon untuk memenuhi kebutuhan minum, masak, mandi, dan ternak, karena sumur di pemukiman telah kering.
  • Sumur tua tersebut menjadi satu-satunya sumber air bagi sekitar 25-30 kepala keluarga, bahkan juga digunakan warga dari luar dusun, sehingga tekanannya semakin tinggi.
  • Masyarakat khawatir sumur cadangan ini akan ikut kering jika kemarau berkepanjangan dan mendesak pemerintah setempat segera memberikan bantuan dropping air serta membangun sumur dalam.

NGAWI, BANGSAONLINE.com - Dampak musim kemarau yang baru berjalan sekitar dua bulan mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Salah satu wilayah terdampak berada di Dusun Tambak Selo, Desa Banyuurip, Kecamatan Ngawi, di mana ratusan warga kini terpaksa berburu air bersih hingga ke area persawahan.

Keringnya sumur-sumur pemukiman membuat warga harus berjalan kaki sejauh 2 hingga 3 kilometer menuju sebuah sumur tua di dekat area persawahan. Sambil memikul ember dan galon, mereka mengandalkan sumber air tersebut untuk menyokong kebutuhan harian seperti memasak, minum, mandi, hingga memberi minum hewan ternak.

Demi memastikan pasokan air di rumah mencukupi, dalam sehari warga harus bolak-balik mengambil air sebanyak 5 hingga 10 kali perjalanan.

Salah seorang warga setempat, Lilik, menuturkan bahwa sumur tua di tengah sawah itu menjadi tumpuan terakhir warga setelah sumur di pemukiman tidak lagi mengeluarkan air sejak dua bulan lalu.

“Karena di sini satu-satunya yang airnya masih ada. Sumur sudah kering sudah dua bulan. Air ini untuk masak, minum, mandi. Sehari bisa sampai sepuluh kali, paling sedikit lima kali mengambil air,” ujar Lilik.

Senada dengan Lilik, Suratno, warga lainnya, menyebutkan bahwa tingkat kebutuhan air di lokasi tersebut semakin tinggi lantaran warga dari luar dusun juga turut mengambil air di sana.

“Pokoknya sulit air bersih. Yang lainnya sudah habis. Sekitar 25 sampai 30 kepala keluarga, bahkan orang luar juga kadang mengambil air di sini,” kata Suratno.

Masyarakat setempat kini dibayangi kecemasan jika kemarau berkepanjangan akan membuat sumur tua tersebut ikut mengering. Warga sangat berharap Pemerintah Kabupaten Ngawi segera turun tangan menyalurkan bantuan dropping air bersih serta merencanakan pembangunan fasilitas sumur dalam guna menanggulangi krisis air bersih tersebut.