SILVERSTONE, BANGSAONLINE.com - Hasil kurang memuaskan yang diraih Marc Marquez pada Seri Grand Prix Inggris murni disebabkan oleh faktor performa pribadinya. Rider tim pabrikan Ducati tersebut secara terbuka mengakui bahwa ia memang kekurangan kecepatan untuk bisa bersaing merebut podium di barisan depan.
Bertarung di Sirkuit Silverstone pada laga hari Minggu, Marquez tampil kurang menggigit. Meski sempat melesat ke urutan ketiga pada lap pembuka, ia perlahan melorot dan harus puas mengakhiri balapan di posisi ketujuh.
Sepanjang akhir pekan, armada Desmosedici memang tampak kesulitan mengimbangi dominasi pabrikan Aprilia. Namun, Marquez juga tak mampu mengungguli kompatriotnya sesama penunggang Ducati, seperti Alex Marquez dan Fabio di Giannantonio.
Sebelumnya, kendala kecepatan Marquez pada balapan sprint Sabtu sempat dituding akibat penurunan performa ban belakang yang drastis hingga membuatnya terlempar dari persaingan utama. Kendati demikian, juara dunia delapan kali itu membantah masalah serupa kembali terulang pada balapan utama hari Minggu. Menurutnya, alokasi ban maupun paket motor berada dalam kondisi ideal.
Saat dicecar alasan gagal menembus posisi depan pada laga perdana pascalibur musim panas tersebut, pembalap berusia 33 tahun ini memberikan jawaban lugas: "Diri saya sendiri."
Memberikan rincian lebih mendalam terkait kendala teknis yang dihadapi, ia membeberkan bahwa peralatan balapnya sejatinya bekerja optimal.
"Motor bekerja dengan baik, ban juga bekerja dengan baik. Performa ban bagus bagi semua pembalap. Jadi, hal positifnya adalah kami tidak mengalami penurunan performa yang drastis. Saya mengelola ban dengan baik di lap-lap awal dan ya, penurunannya tidak... Kondisi ban baik-baik saja. Bahkan di lap-lap terakhir, kita masih bisa melaju dengan sangat cepat. Hanya saja hari ini, saya tidak bisa menemukan cara untuk tampil lebih baik," urainya.
Ia menambahkan bahwa pencapaian tersebut sebenarnya sudah masuk dalam kalkulasi tim sejak awal.
“Posisi ketujuh itu adalah hasil yang sudah bisa kami perkirakan di atas kertas. Hasil yang optimistis sebenarnya adalah finis di lima besar, namun kami tidak bisa mengelolanya dengan cara terbaik.”
Karakteristik sirkuit Silverstone secara historis memang kurang ramah dengan gaya membalap Marquez. Jika di masa lalu ia sanggup menutupi kekurangan tersebut lewat keunggulan di sektor lain, situasi kini berbeda lantaran ia masih berada dalam fase pemulihan cedera bahu.
Menanggapi pertanyaan apakah cedera atau gaya membalap yang menjadi ganjalan utama, Marquez enggan berspekulasi lebih jauh. “Kondisinya memang seperti ini dan saya harus mengelolanya.”
Meski begitu, ia menggarisbawahi adanya perbedaan performa saat melakukan time attack dibanding ketika simulasi balapan berdurasi panjang.
“Kali ini adalah pertama kalinya saya bisa membalap dengan baik saat time attack, namun daya tahan adalah aspek yang perlu saya tingkatkan; kita lihat saja nanti.”
Pantang Panik
Sebelum jeda pertengahan musim, Marquez sempat menghidupkan asa berburu gelar juara usai merengkuh tiga kemenangan dari empat balapan, yang melesatkannya ke urutan ketiga klasemen sementara. Tambahan poin yang minim di Inggris membuat posisinya melorot ke peringkat keempat, berjarak 40 poin dari pembalap Aprilia, Jorge Martin.
Walau posisi klasemennya tergerus, Marquez menegaskan tak ada alasan untuk panik. Ia kembali mengingatkan publik bahwa kegagalan mengamankan gelar juara dunia pada musim 2026 tidak bakal merusak jalan hidupnya.
“Tidak, karena itu semua bergantung pada tujuan Anda. Tujuan saya adalah menikmati momen saat berada di atas motor, dan itu bukan... Ya, (tujuannya memang memenangkan gelar), tetapi jika tidak berhasil, hal itu tidak akan mengubah masa depan hidup saya,” ucap Marquez saat ditanya mengenai kekhawatiran atas penurunan kecepatannya.
“Seperti yang sudah saya katakan tahun lalu dan juga pada hari Kamis di sini, ambisi saya tetap sama. Cara saya menghadapi akhir pekan balapan juga sama, namun selalu realistis dan tidak terburu-buru.”
“Kemarin, saya mengalami masalah besar dengan ban yang tidak bisa saya tangani dengan baik. Kemarin saya finis di posisi kesembilan. Hari ini, saya merasa tidak mungkin untuk bersaing dengan pembalap lain. Saya tidak memaksakan diri untuk bertarung. Jadi, ya, kondisinya memang seperti itu.”
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa pengalamannya yang matang mengajarkannya untuk bertarung pada waktu yang tepat.
“Saya sudah cukup banyak berjuang sepanjang karier saya; saya akan berjuang saat kondisi saya prima. Namun, jika kondisi saya tidak prima, saya tidak akan memaksakan diri tetap di atas motor,” pungkasnya.










