Ringkasan Berita
- Bupati Kediri Dhito secara langsung mengunjungi Marfelino (11 tahun), siswa kelas 5 SD yang merawat ibunya yang sakit sendirian di rumah sejak kelas 3, karena ibunya menderita pengapuran tulang selama sekitar dua tahun.
- Marfel menjalani tanggung jawab berat layaknya orang dewasa, seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah untuk ibunya, namun tetap menyempatkan waktu untuk mengaji dan bermain seperti anak-anak seusianya.
- Bupati Dhito memberikan apresiasi dan dukungan penuh, menitipkan pesan agar Marfel tetap bersekolah dan beribadah, serta memberikan nomor ponsel pribadinya untuk dihubungi kapan saja jika membutuhkan bantuan.
- Pemerintah daerah melalui Bupati berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan hidup Marfel, menunjukkan adanya perhatian dan jaminan dukungan sosial dari pemimpin setempat terhadap keluarga yang mengalami kesulitan.
KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menemui Marfelino Dhuha Saputra, 11, bocah kelas 5 SD asal Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, yang sehari-hari merawat ibunya seorang diri.
Berbeda dengan anak seusianya, Marfel harus menjalani berbagai pekerjaan rumah di usia yang masih belia. Ia memasak, mencuci, hingga membersihkan rumah untuk membantu merawat ibunya.
Kehadiran Bupati Dhito pada Kamis siang (13/8/2026) disambut Marfel yang baru pulang sekolah. Masih mengenakan seragam merah putih dan bersepatu, Marfel mempersilakan bupati duduk di kursi kayu.
Kisah Marfel membuat Dhito ingin mengetahui lebih jauh kesehariannya. Duduk berdampingan di kursi yang sama, Dhito melontarkan sejumlah pertanyaan mengenai aktivitas bocah tersebut.
"Kamu bisa masak?" tanya Dhito.
"Bisa, masak 'jangan' (sebutan sayur dalam bahasa Jawa) apa saja, asal diberitahu caranya," jawab Marfel.
Dengan polos, Marfel menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang disampaikan Dhito. Bocah tersebut memang terbiasa memasak sendiri, termasuk mencuci dan membersihkan rumah.
"Sejak kapan mulai merawat ibumu? Kembali Mas Dhito bertanya kepada Marfel.
"Sejak kelas 3 akhir-akhir," jawab bocah kelas 5 SD itu.
Ibu Marfel, Kumala, 41, telah sekitar dua tahun mengalami pengapuran tulang. Dengan kondisi tersebut, saat bupati datang ke rumahnya, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur yang berada di samping pintu ruang tamu.
Kondisi tersebut membuat aktivitas Kumala harus dibantu sang anak. Untuk kebutuhan makan, Marfel langsung memasak seadanya setelah bangun tidur untuk sarapan bersama ibunya sebelum berangkat sekolah.
Setelah pulang sekolah, bocah tersebut kembali memasak untuk ibunya. Pada sore hari, Marfel tetap menjalani aktivitas seperti anak-anak seusianya dengan mengaji.
"Ini anak yang luar biasa. Tadi saya tanya kapan mainnya, kata dia main setelah habis ngaji," terang Dhito.
Menurut Dhito, saat pertama kali menjalani tanggung jawab merawat ibunya, Marfel sempat merasa berat. Namun, kini ia telah terbiasa dan tidak lagi menganggap tanggung jawab tersebut sebagai beban.
Dhito pun terus memberikan dukungan kepada Marfel. Ia berpesan agar di tengah tanggung jawab merawat ibunya, bocah tersebut tidak melupakan ibadah dan tetap bersekolah.
Sebelum berpamitan, Dhito juga memberikan nomor ponsel pribadinya kepada Marfel. Sewaktu-waktu membutuhkan sesuatu, bocah tersebut diminta segera menghubunginya.
"Kalau ada apa-apa dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya. Kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan cukupi," pungkasnya. (uji/van)










