Tiyo Ardianto Tak Habis Pikir dengan Pidato Prabowo soal Stunting dan Program MBG

Ringkasan Berita
  • Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyindir pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut prevalensi stunting di beberapa daerah mencapai 25 persen, tetapi program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan diberikan ke semua anak.
  • Presiden Prabowo menegaskan komitmen melanjutkan program MBG dengan perbaikan dan efisiensi dalam pelaksanaannya sebagai upaya mengatasi stunting yang berdampak pada perkembangan fisik dan kemampuan anak.
  • Program MBG ditempatkan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia, dengan tujuan memastikan anak tidak belajar dalam kondisi lapar dan memenuhi kebutuhan gizi sejak usia dini.
  • Terdapat kesenjangan persepsi antara data stunting yang spesifik (25% anak di beberapa daerah) dengan cakupan program MBG yang lebih luas, yang menjadi sorotan kritik Tiyo Ardianto.

JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto menyindir pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai angka stunting dan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tiyo menyoroti pernyataan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 yang menyebut prevalensi stunting di sejumlah daerah masih mencapai 25 persen atau sekitar satu dari empat anak.

"Tapi kok yang mau diberi MBG semua anak Pak Presiden?" kata Tiyo melalui pernyataannya.

Pernyataan Tiyo tersebut merespons komitmen Prabowo untuk melanjutkan program MBG.

Presiden memastikan program tersebut tetap berjalan dengan sejumlah perbaikan dan efisiensi dalam pelaksanaannya.

Sindiran Tiyo menyoroti cakupan penerima MBG yang menurutnya lebih luas dibandingkan kelompok anak yang disebut Prabowo mengalami stunting.

Prabowo menyampaikan komitmen tersebut dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menempatkan pemenuhan gizi sebagai salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Prabowo, pemerintah tidak boleh membiarkan anak-anak belajar dalam kondisi lapar.

Presiden juga menyoroti persoalan stunting yang masih dialami anak-anak di sejumlah daerah.

Ia menyebut prevalensi stunting di beberapa tempat masih mencapai 25 persen atau sekitar satu dari empat anak.

"Untuk mengatasi stunting yang masih dialami oleh anak-anak kita di beberapa tempat setinggi 25 persen, 1 dari 4 anak Indonesia ada yang mengalami stunting," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, stunting dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kemampuan anak.

Ia menyebut pertumbuhan sel otak, otot, hingga tulang dapat terganggu akibat persoalan gizi.

"Sel otak tidak berkembang dengan baik, sel otot tidak berkembang, sel tulang tidak berkembang dengan baik," ujar Prabowo.

Pemerintah memilih pemenuhan kebutuhan gizi sejak usia anak sebagai salah satu bentuk intervensi.

Program MBG menjadi salah satu kebijakan yang dipertahankan pemerintah untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Prabowo menegaskan program MBG akan tetap dilanjutkan meski pelaksanaannya membutuhkan pembenahan.

Pemerintah akan melakukan perbaikan sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan program tersebut.

"Dan karena itu, saya bertekad teruskan program MBG tapi dengan perbaikan dan efisiensi," tegas Prabowo.