JOMBANG,BANGSAONLIN.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mendorong seluruh warga Nahdliyin meneladani progresivitas pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab dalam menghadapi dinamika era modern.
Gus Yahya menegaskan, pola pikir Mbah Wahab tidak hanya berorientasi pada upaya melestarikan tradisi masa lalu, tetapi juga pada gagasan strategis yang harus diperjuangkan untuk masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya seusai menjadi narasumber dalam bedah buku pada Sarasehan Nasional Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama di Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Kabupaten Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.
Menurut Gus Yahya, prinsip visioner Mbah Wahab patut menjadi salah satu fondasi dalam menyongsong Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.
Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dinilai memiliki nilai historis karena digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang menjadi salah satu pusat pergerakan NU sekaligus tempat peristirahatan terakhir Mbah Wahab.
Gus Yahya mengingatkan para peserta muktamar atau muktamirin agar menyadari nilai sejarah selama berada di lingkungan Tambakberas.
Keberadaan makam Mbah Wahab, lanjutnya, harus menjadi pengingat moral agar fondasi perjuangan NU tetap berpijak pada nilai dan marwah para pendirinya.
Ia mendorong warga Nahdliyin tidak hanya mengenang perjuangan para muassis, tetapi juga meneruskan semangat dan gagasan mereka dalam menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, pemikiran para pendiri NU perlu diterjemahkan dalam langkah strategis yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan perubahan zaman.
Agenda bedah buku dalam Sarasehan Nasional Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional serta keluarga keturunan para pendiri NU.
Selain menjadi ruang refleksi atas kontribusi para muassis, forum tersebut juga dirancang sebagai wadah untuk merumuskan langkah strategis NU dalam menjawab berbagai tantangan pada masa mendatang. (aan/van)










