Ringkasan Berita
- Pemerintah Kabupaten Kediri menutup sementara jalur pendakian Bukit Tembelang di Besuki mulai 5 September 2026 sebagai antisipasi rembetan kebakaran hutan dari Gunung Wilis.
- Penutupan hanya berlaku untuk jalur pendakian ke Puncak Tembelang, sedangkan kawasan wisata Besuki tetap buka; petugas dikerahkan untuk menginformasikan dan mencegah pendaki nekat.
- Kebakaran hutan telah merembet dari Nganjuk ke kawasan hutan Kediri, dengan titik api di Petak 144 RPH Kanyoran seluas sekitar lima hektare yang masih terbakar.
- Proses pemantauan dan penanggulangan kebakaran dihadapkan pada medan terjal dengan akses sulit, membutuhkan perjalanan empat jam berjalan kaki dan lebih dari 10 personel gabungan.
- Bukit Tembelang merupakan destinasi pendakian populer untuk pemula karena puncaknya tidak terlalu tinggi dan dapat dicapai dalam 20-30 menit.
KEDIRI, BANGSAONLINE.com – Pemerintah Kabupaten Kediri menutup sementara jalur pendakian Bukit Tembelang di kawasan wisata Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, mulai hari ini, Sabtu (5/9/2026).
Penutupan tersebut sebagai langkah antisipasi rembetan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Gunung Wilis.
Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Husni Mubarok, mengatakan titik kebakaran yang berada di wilayah Gunung Wilis saat ini masih menjadi perhatian karena dikhawatirkan api merembet ke arah Puncak Tembelang.
Menurut Husni, Disparbud Kediri memastikan penutupan hanya berlaku untuk jalur pendakian menuju Puncak Tembelang. Sedangkan kawasan wisata Besuki secara keseluruhan tidak ditutup.
"Kalau di wilayah Mojo itu sebenarnya masih di seberangnya Puncak Tembelang. Kita antisipasi khawatir ada merembet ke arah puncak Tembelang yang masih di wilayah kita," kata Husni saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).
Karena pertimbangan keselamatan, lanjut Husni, pihaknya memutuskan menutup sementara jalur pendakian tersebut mulai hari ini, sampai kondisi di sekitar kawasan dinyatakan kondusif dan aman untuk kembali digunakan oleh masyarakat maupun pendaki.
Untuk memastikan tidak ada pendaki yang tetap masuk, lanjut Husni, Disparbud Kediri menyiapkan petugas di sejumlah titik. Informasi penutupan dipasang di depan loket kawasan Besuki dan pintu masuk jalur pendakian.
"Petugas juga akan berjaga di pintu jalur pendakian untuk memberikan informasi sekaligus mencegah pengunjung yang nekat menuju Puncak Tembelang maupun Puncak Cemoro melalui jalur tersebut," tegas Husni.
Selain pemasangan informasi di lokasi, Disparbud juga akan menyampaikan pengumuman penutupan melalui media sosial agar informasi cepat diketahui masyarakat.
Husni mengatakan Bukit Tembelang selama ini menjadi salah satu pilihan pendakian yang cukup diminati, terutama karena jalurnya relatif ramah bagi pendaki pemula.
Puncak Tembelang memiliki ketinggian yang tidak terlalu ekstrem dengan waktu tempuh yang relatif singkat. Dalam kondisi normal, pendaki dapat mencapai puncak sekitar 20 hingga 30 menit, sehingga cukup banyak pengunjung yang memilih melakukan pendakian pulang-pergi dalam satu hari.
"Memang yang menjadi daya tarik karena puncaknya tidak terlalu tinggi dan sangat ramah bagi pendaki pemula maupun anak-anak. Waktunya juga tidak terlalu lama," jelas Husni.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri terus memantau perkembangan karhutla yang merembet dari kawasan hutan RPH Bajulan BKPH Pace, Nganjuk, menuju kawasan hutan Kabupaten Kediri.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto mengatakan, berdasarkan pemantauan terakhir, kebakaran telah masuk ke kawasan RPH Parang BKPH Kediri KPH Kediri di Desa Joho, Kecamatan Semen.
Kebakaran diketahui merembet ke wilayah Kediri pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 05.30 WIB. Untuk titik di Petak 109 RPH Parang, api berdasarkan pemantauan terakhir telah padam.
Petak 109 RPH Parang memiliki luas sekitar enam hektare. Namun, lanjut Ariyanto, BPBD belum dapat memastikan luas kawasan yang telah terbakar karena masih dilakukan pemantauan di lapangan.
Selain Petak 109, pemantauan juga dilakukan di Petak 144 RPH Kanyoran. Di lokasi tersebut, sebagian besar kawasan masih terbakar dengan luasan terdampak diperkirakan sekitar lima hektare.
Ariyanto menyebut api di kawasan tersebut diharapkan dapat padam sebelum mencapai Gunung Gansang. Kondisi vegetasi yang masih cukup hijau serta adanya aliran sungai menjadi faktor yang diharapkan dapat menghambat pergerakan api.
"Vegetasinya masih hijau, kemudian di kontur lokasi juga ada aliran sungai. Harapannya api bisa terputus di situ," jelasnya.
Selain faktor medan, jarak titik kebakaran dari permukiman juga cukup jauh. Dari kawasan Kelir, petugas masih harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju Taman Kelir sebelum melanjutkan perjalanan ke titik api.
Medan yang terjal dan akses yang sulit membuat proses pemantauan tidak mudah. Untuk mencapai titik api dengan berjalan kaki, petugas membutuhkan waktu sekitar empat jam dengan membawa perbekalan lengkap dan harus memahami jalur menuju lokasi.
Lebih dari 10 personel gabungan diterjunkan untuk melakukan pemantauan sekaligus mengantisipasi apabila api kembali meluas. Sejumlah petugas bahkan harus bermalam selama dua malam di kawasan hutan untuk memastikan perkembangan kebakaran tetap terpantau.
Menurut Ariyanto, BPBD juga telah mencoba menggunakan drone untuk memantau titik kebakaran. Namun, upaya tersebut belum maksimal karena kondisi angin yang kencang dan keterbatasan daya baterai drone.
Terkait penyebab kebakaran, Ariyanto menduga kuat karhutla tersebut dipicu aktivitas manusia. Salah satu dugaan yakni aktivitas berburu dengan cara membakar serasah hutan maupun mencari sarang lebah madu menggunakan oncor atau obor yang tidak dipadamkan dengan sempurna.
"Api kemudian diduga menyambar serasah kering dan menjalar ke kawasan hutan lainnya. Hingga kini, BPBD Kabupaten Kediri masih melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan Perhutani serta pihak terkait untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran,"ujar Ariyanto. (uji/msn)










