Oleh: M. Mas'ud Adnan
Inilah paradoks politik yang sangat telanjang: MBG alias Makan Bergizi Gratis. Pada satu sisi program MBG sangat istimewa dan super prioritas. Bahkan dengan alokasi anggaran triliunan tiap bulan.
Tapi pada sisi lain program MBG justru mengecewakan rakyat. Kasus keracunan massal yang menimpa puluhan ribu siswa-siswi yang terus terjadi hingga sekarang, bukan sekedar membuat para orang tua kecewa tapi juga sengsara dan sedih.
Belum lagi kasus korupsi yang melibatkan para elit dan pajabat MBG. Jelas itu semakin menambah daftar kekecewaan rakyat. Sedemikian kecewanya rakyat, sampai hasil survey elektabilitas Presiden Prabowo anjlok di angka 28 persen. Ini alarm politik yang sangat serius.
Tapi Presiden Prabowo bergeming. Tak ada inisiatif untuk mengevaluasi. Apalagi menghentikan program yang sangat memboroskan uang negara atau rakyat itu. Alih-alih mengevaluasi, Presiden Prabowo kabarnya sangat sensitif jika menyangkut MBG. Ia marah jika ada yang mengeritik program MBG.
Konsekuensinya, orang-orang di sekelilingnya pilih aman. Diam. Tentu ini tidak sehat. Dan sangat merugikan rakyat, terutama mereka yang bayar pajak.
Banyak sekali tokoh masyarakat – termasuk para kiai pendukung Prabowo - bingung. Mereka bertanya mengapa Presiden Prabowo terkesan membiarkan kasus MBG – termasuk kasus keracunan massal – yang jelas merugikan dan mengecewakan rakyat. Mengapa tidak melakukan langkah-langkah tegas? Benarkah Presiden Prabowo disterilkan dari berita-berita negatif MBG sehingga ia sama sekali tak tahu kalau terjadi kasus keracunan massal?
Saya tak tahu pasti. Tapi bisa saja Presiden Prabowo sedang terjebak dalam dilema besar. Artinya, jika ia bertindak tegas, misalnya menghentikan program MBG, ia takut kehilangan muka karena programnya bisa dianggap gagal. Sebaliknya, jika ia membiarkan MBG berjalan seperti sekarang jelas semakin menggerogoti trush atau kepercayaan publik terhadap dirinya.
Apalagi kondisi ekonomi semakin terpuruk akibat program MBG yang menguras dana ratusan triliun tiap tahun. Belum lagi kasus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Yang juga menguras dana rakyat dalam jumlah ratusan triliun.
Sekarang Prabowo menggelontor bantuan sosial berupa bagi-bagi beras 30 kilogram per keluarga. Juga membuka rekening cuma-cuma untuk rakyat dengan saldo Rp 50 ribu. Harapannya program tambal sulam itu bisa mengembalikan trush dan mengatrol elektabilitasnya yang terjun bebas.
Tapi Prabowo tampaknya salah baca situasi. Prabowo harus sadar bahwa bansos dan pembukaan rekening itu menguras lagi dana negara yang nota bene uang rakyat. Dan justru sikap menghambur-hamburan uang itulah yang dikeluhkan rakyat.
Sekali-kali dengarkan suara kepala daerah. Baik gubernur, bupati atau wali kota. Atau kepala desa dan lurah. Mereka sekarang sedang nelangsa karena kehabisan dana. Termasuk akibat dana transfer dialihfungsikan. Atau dana desa yang juga dialihkan untuk KDMP.
“Sekarang pemprov, Pemkot dan Pemkab bangkrut,” ujar seorang kepala dinas provinsi dalam acara seminar sembari minta identitasnya dirahasiakan.
Jadi program tambal sulam itu sulit sekali mengembalikan distrush Prabowo. Apalagi kualitas beras 30 kg itu di bawah standar. Faktanya mereka yang menerima bantuan itu mengeluh dan bingung untuk menjual karena berasnya tak layak dimakan.
Demikianlah, program paradoks Presiden Prabowo – yakni MBG dan KDMP – bisa menjadi amunisi gratis bagi para calon presiden lawan Prabowo pada 2029 nanti. Tentu jika Prabowo masih bisa maju lagi dalam Pilpres 2029.
Para capres lawan Prabowo itu punya amunisi kampanye sangat dahsyat. Mereka cukup berkata lantang: Jika saya terpilih sebagai presiden, langkah pertama, saya akan stop MBG dan KDMP !!! Rakyat pasti langsung bersorak gemuruh.
Sebenarnya Presiden Prabowo masih ada waktu untuk berbenah, jika ia mau mendengarkan suara rakyat. Tirulah BJ Habibie saat menjabat presiden. Presiden jenius itu punya program unggulan yang sangat prestisius secara teknologi, yaitu pembuatan kapal terbang.
Tapi program hebat itu ia pending karena kondisi ekonomi lebih membutuhkan perhatian. Habibie pun fokus pada pembenahan ekonomi terutama untuk menstabilkan rupiah yang terpuruk. Sekarang Habibie dikenang sebagai presiden yang lebih mementingkan rakyat ketimbang ambisi pribadinya. Wallahu a’lam bisshawab.










