Ringkasan Berita
- Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, meminta maaf atas insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar dari pondok pesantren dan 19 sekolah setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel, yang diolah sekitar pukul 05.30 WIB dan didistribusikan sekitar pukul 11.00 WIB dengan masa tahan sekitar empat jam.
- Pihak sekolah melakukan pemeriksaan awal kualitas makanan secara organoleptik (rasa, aroma, warna) dan menyatakan makanan aman sebelum dikonsumsi, namun keluhan kesehatan tetap muncul setelahnya.
- Petugas SPPG mengaku kebingungan atas penyebab keracunan, menyatakan bahwa pemeriksaan tidak menemukan masalah namun tetap terjadi insiden kesehatan.
SIDOARJO,BANGSAONLINE.com - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin Rafli Ridho meminta maaf atas insiden dugaan keracunan yang dialami ratusan pelajar setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, sebelumnya dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (1/9/2026).
Keluhan serupa juga dilaporkan dialami pelajar dari 19 sekolah lainnya yang menerima menu MBG dari SPPG Kalitengah.
Menu yang dibagikan kepada para penerima terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
“Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Rafli kepada awak media, Rabu (2/9/2026).
Rafli menjelaskan proses pengolahan menu MBG dilakukan sejak pukul 05.30 WIB. Makanan kemudian mulai didistribusikan kepada para penerima sekitar pukul 11.00 WIB.
Menurutnya, makanan tersebut memiliki masa tahan sekitar empat jam setelah proses pengolahan.
Sebelum makanan dikonsumsi, pihak sekolah juga melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan kualitas makanan yang diterima.
Rafli mengatakan pemeriksaan tersebut dilakukan menggunakan metode organoleptik, yakni penilaian produk berdasarkan karakteristik seperti rasa, aroma, warna, dan kondisi makanan.
“Di situ kan ada organoleptik. Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu dicicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanya, katanya aman, enggak ada masalah di makanan itu. Tapi kenapa kok keracunan, lah itu yang saya tidak tahu,” ungkap Rafli.
Meski pemeriksaan awal disebut tidak menemukan masalah, keluhan kesehatan kemudian muncul setelah makanan tersebut dikonsumsi para penerima.










