Media Gathering BPJS Kesehatan Sidoarjo, Insan Pers Diajak Tangkal Hoaks dan Perkuat Literasi JKN

SIDOARJO,BANGSAONLINE.com - BPJS Kesehatan Cabang Sidoarjo mengajak insan pers memperkuat sinergi dalam menjaga keberlanjutan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sekaligus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Media Gathering bertajuk “Sinergi Media untuk JKN Berkelanjutan dan Masyarakat Sehat” yang digelar di Resto Ratabata Sidoarjo, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan wartawan itu menjadi wadah untuk mempererat kemitraan BPJS Kesehatan dengan media dalam menyampaikan informasi mengenai Program JKN kepada masyarakat.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sidoarjo, Munaqib, mengatakan peran media dalam mendukung keberlangsungan Program JKN tidak sebatas menyampaikan informasi kepada publik.

Menurutnya, media memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan Program JKN.

“Media bukan sekadar penyampai berita, melainkan jembatan informasi dan agen perubahan sosial,” beber Munaqib.

Ia menilai peran media semakin penting seiring derasnya arus informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Media diharapkan turut membantu masyarakat mendapatkan informasi yang tepat mengenai Program JKN serta mencegah penyebaran informasi yang simpang siur, disinformasi, dan berita hoaks yang dapat memicu kesalahpahaman.

“Media memiliki kekuatan besar untuk membentuk opini publik, meluruskan disinformasi atau berita hoaks, serta mengedukasi masyarakat secara objektif dan berimbang,” tegasnya.

Salah satu informasi mengenai layanan JKN yang masih menjadi sumber kesalahpahaman adalah anggapan bahwa BPJS Kesehatan menetapkan batas maksimal lama rawat inap bagi peserta JKN.

Munaqib menegaskan, lama perawatan pasien bukan ditentukan oleh BPJS Kesehatan, melainkan menjadi kewenangan dokter yang menangani pasien sesuai dengan kondisi medisnya.

“BPJS Kesehatan tidak pernah menetapkan batasan hari untuk rawat inap. Lama atau tidaknya perawatan sepenuhnya menjadi kewenangan dokter penanggung jawab pasien setelah melakukan anamnesa,” tuturnya.

Selain persoalan informasi layanan, Munaqib menyampaikan bahwa tantangan pembiayaan kesehatan juga berkaitan dengan keberlanjutan Program JKN dan meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM).

Hipertensi dan Diabetes Melitus menjadi perhatian karena kedua penyakit tersebut banyak ditemukan pada kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi serta menghadapi tingkat stres yang cukup besar.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Media Gathering juga diisi edukasi kesehatan bertema “Mengenal dan Mencegah Penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi” yang disampaikan dr. Nurul Hidayati.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak meningkatkan kepedulian terhadap kondisi kesehatan melalui deteksi dini karena Hipertensi dan Diabetes Melitus dapat tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, tetapi berisiko menimbulkan komplikasi apabila tidak ditangani. (sta/van)