Ringkasan Berita
- Pelajar SMA di Sidoarjo diajak berperan cegah stunting melalui sosialisasi Program Bangga Kencana, dengan fokus pada remaja perempuan sebagai calon ibu.
- Pencegahan stunting meliputi program Catin (calon pengantin) untuk edukasi dan pemeriksaan kesehatan pranikah, serta upaya mencegah perkawinan anak.
- Stunting didefinisikan sebagai gagal tumbuh kembang anak akibat gizi kronis, ditandai berat lahir <2,5 kg dan panjang <48 cm, namun bukan penyakit menular.
- Angka stunting di Sidoarjo masih tinggi, sehingga generasi muda didorong untuk menekan prevalensinya pada 2026 melalui kesiapan fisik dan pengetahuan.
- Remaja perempuan dipersiapkan secara akademis, fisik, mental, sosial, dan karakter untuk menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi sehat.
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Para pelajar di Kabupaten Sidoarjo diajak untuk ikut berperan mencegah kurang gizi kronis (stunting).
Hal itu terungkap saat Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluargan Berencana (Bangga Kencana) Bersama Mitra Kerja, di SMA Budi Utomo, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).
Sosialisasi tersebut diikuti ratusan siswi SMA Budi Utomo kelas X, XI dan kelas XII. Sosialisasi juga diikuti sejumlah guru di sekolah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendugbangga)/BKKBN Jatim, Shodiqin mengajak para siswi untuk ikut mencegah stunting.
Ia menyebut ada beberapa cara pencegahan stunting. Bagi para remaja, pihaknya mempunyai program calon pengantin (Catin).
Program tersebut, yakni layanan pembinaan, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan yang wajib diikuti oleh pasangan sebelum menikah.
"Jadi adik-adik kalau sudah mau menikah, harapan kami mulai sekarang sudah menyiapkan kondisi tubuhnya. Karena salah satu penyebab stunting, karena istri kekurangan darah atau anemia," jelas Shodiqin.
Sehingga jika si ibu sehat, maka anak yang dilahirkan juga sehat. Ia pun menyebut diantara ciri anak lahir stunting, yakni berat badannya kurang dari 2,5 kilogram dan tinggi atau panjang kurang dari 48 sentimeter.
Shodiqin juga menjelaskan pengertian stunting, yakni kondisi gagal tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan gizi kronis. Diantara tandanya, yakni tinggi dan berat badan tidak ideal dengan anak seusianya.
"Stunting pasti pendek, tapi pendek belum tentu stunting. Bukan penyakit, tapi gagal tumbuh kembang anak. Jangan sampai ada anak stunting terus dikucilkan, tidak mau bergaul," jlentrehnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Sidoarjo Heni Kristiani yang juga menjadi narasumber, juga menyinggung soal stunting.
Ia menyebut angka stunting di Sidoarjo saat ini masih tinggi. Sehingga para generasi muda bisa ikut berperan untuk menekan prevalensi stunting pada tahun 2026. Caranya dengan ikut mencegah perkawinan anak.
"Kenapa harus dicegah? Karena adik-adik yang masih dianggap anak-anak itu belum paham terkait pengasuhan," tandasnya di depan para peserta sosialisasi.
Sosialisasi ini dibuka secara resmi oleh Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina melalui zoom. Dalam kesempatan itu, Arzeti mengajak generasi muda, khususnya perempuan, tidak menyia-nyiakan masa pertumbuhan dengan memperbanyak pengetahuan, menjaga kesehatan, serta membangun pergaulan yang sehat.
Menurutnya, remaja perempuan memiliki posisi penting dalam membentuk generasi masa depan. Karena itu, mereka perlu dipersiapkan tidak hanya secara akademis, tetapi juga secara fisik, mental, sosial, dan karakter.
“Kalian harus tahu sekali dengan saling belajar dan sehat lahir batin. Terutama cara bergaul kita sebagai perempuan dan akan menjadi garda terdepan dalam sebuah rumah tangga,” tandas Arzeti.
Arzeti menekankan bahwa menjadi perempuan yang berkualitas membutuhkan bekal lebih dari sekadar pendidikan formal.
Pengetahuan, keterampilan, kesehatan, serta kemampuan mengenali potensi diri juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan. (sta/msn)










