PROBOLINGGO,BANGSAONLINE.com - Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menjadi perhatian Bupati Probolinggo Haris Damanhuri setelah viral dugaan penelantaran pasien kecelakaan di rumah sakit tersebut.
Tak ingin persoalan tersebut berlarut, Bupati Haris langsung merespons keluhan warga yang merupakan pasien kecelakaan.
Pasien tersebut disebut harus menunggu hingga 30 jam untuk mendapatkan kepastian tindakan medis dari pihak rumah sakit.
Dugaan lambatnya penanganan medis terhadap pasien kecelakaan itu sebelumnya viral di media sosial dan menjadi sorotan.
Meski telah dibantah Direktur RSUD setempat, persoalan tersebut tetap mendapat perhatian karena menyangkut kualitas pelayanan rumah sakit milik pemerintah daerah.
Hal itu dialami Pauzi (52), warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Dalam inspeksi mendadak (sidak), Bupati langsung menuju ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Ia meninjau pelayanan pasien, mengecek kesiapan tenaga medis, serta melihat fasilitas kesehatan di ruang perawatan tersebut.
Bupati Haris menginstruksikan Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan Yessy Rahmawati untuk melakukan audit internal secara menyeluruh serta mencocokkan kronologi antara keterangan pihak keluarga pasien dan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit.
Haris menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap fasilitas kesehatan daerah, sekaligus mengevaluasi pelayanan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Apapun yang viral dan dikeluhkan masyarakat harus kita kaji secara mendalam. Kita harus pastikan apakah ini murni kelemahan pelayanan, masalah personal tenaga medis, atau SOP yang tidak berjalan dengan benar," ujar Haris.
Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap rumah sakit milik pemerintah daerah.
Sebab, menurutnya, mengembalikan kepercayaan masyarakat yang telah menurun akan jauh lebih sulit jika keluhan pelayanan tidak segera direspons melalui pembenahan nyata.
"Saya sudah telepon langsung pihak keluarga untuk mendengar kronologinya, dan hari ini kita cocokkan dengan penjelasan dari pihak RSUD. Oleh sebab itu, saya minta audit total, dan hasilnya harus menjadi bahan evaluasi besar-besaran," tegasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Waluyo Jati, Yessy Rahmawati, mengatakan masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi, terutama terkait pola komunikasi dengan pasien dan keluarga.
"Kami menerima masukan tersebut dan saat ini proses audit internal tengah berjalan dengan target penyelesaian dalam tiga hari kedepan," ujarnya.
Menjawab tudingan mengenai lambatnya penanganan dan kendala rujukan, Yessy mengklaim tindakan medis telah diberikan sejak pasien tiba di rumah sakit, termasuk penjahitan luka sementara serta pemasangan pen pada tulang yang patah.
Terkait rujukan, menurut Yessy, pihaknya telah berupaya menghubungi enam rumah sakit rujukan untuk menangani trauma dada pasien yang membutuhkan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskuler (BTKV).
Namun, seluruh rumah sakit tujuan disebut dalam kondisi penuh. "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan keluarga. Mengenai dokter spesialis yang menangani pasien," ucap Yessy.
Seperti diketahui, korban kecelakaan lalu lintas Pauzi (52) meninggal dunia setelah menjalani operasi di RSUD Waluyo Jati Kraksaan.
Korban masuk rumah sakit pada Selasa (8/9/2026) malam. Di ruang IGD, korban sempat mendapatkan penanganan awal dan menjalani pemeriksaan CT scan yang menunjukkan gegar otak ringan tanpa pendarahan otak.
Kondisi tersebut membuat pihak keluarga kecewa karena korban harus menunggu lebih dari 30 jam untuk mendapatkan kepastian tindakan operasi yang melibatkan tiga dokter spesialis sekaligus.
Pauzi baru menjalani operasi pada Kamis (10/9/2026) malam setelah dipindahkan ke Ruang Cempaka. Pascaoperasi, pasien dipindahkan ke ruang ICU pada Jumat (11/9/2026) dan dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026) malam. (ndi/van)










