NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kawasan Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk. Kobaran api menghanguskan sekitar dua hektare area hutan di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, yang diduga dipicu oleh rembetan api dari wilayah Ponorogo.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Nganjuk, Sutomo, menjelaskan bahwa titik api sejatinya telah berkobar sejak Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Laporan tersebut baru diterima oleh BPBD pada Rabu (16/9/2026) pagi sekitar pukul 08.45 WIB.
Lokasi kebakaran berada di Petak 23 dan 24 RPH Gedang Pelukuh, BKPH Pace, KPH Kediri. Berdasarkan pendataan awal, luas area yang hangus dilalap si jago merah ditaksir mencapai dua hektare.
“Untuk kejadiannya Selasa, tanggal 15 September 2026 sekitar pukul 18.00. Informasi masuk ke kami tanggal 16 hari ini sekitar pukul 08.45,” terang Sutomo saat dikonfirmasi, Rabu (16/9/2026).
Sutomo memaparkan bahwa api semula muncul dari kawasan hutan Ponorogo sebelum meluas menembus Gunung Wilis di wilayah Nganjuk. Kondisi cuaca kemarau terik yang disertai tiupan angin kencang mempercepat pergerakan si jago merah.
“Penyebabnya rambatan dari wilayah hutan Kabupaten Ponorogo. Termasuk faktor angin, karena musim kemarau seperti ini beberapa hari juga banyak angin,” jelasnya.
Ia menambahkan, titik kebakaran di Ngliman berdiri terpisah dari insiden serupa yang sebelumnya melanda Klodan, Kecamatan Ngetos. Kebakaran di Klodan sendiri saat ini telah berhasil dipadamkan sepenuhnya.
“Kalau Ngetos sudah padam, di Klodan sudah ditangani teman-teman. Yang baru terjadi ini di wilayah Ngliman,” tambahnya.
BPBD Nganjuk fokus melakukan penanganan melalui langkah mitigasi serta pemantauan berkala. Sinergi intensif dijalin bersama berbagai pihak, termasuk para petani yang berada di sekitar kawasan hutan.
“Kami sifatnya mitigasi atau pencegahan. Kami selalu koordinasi dengan pihak-pihak terkait, utamanya petani yang setiap hari standby di sana untuk memberikan update kepada kami,” terangnya.
Proses pemadaman secara langsung di lapangan terhambat oleh medan yang terjal. Lokasi api berada di jalur ekstrem yang tak dapat dilewati armada kendaraan, sehingga petugas terpaksa menempuhnya dengan berjalan kaki.
“Kalau ke lokasi untuk memadamkan secara langsung tidak memungkinkan karena jalurnya tidak bisa dilalui kendaraan. Itu harus jalan kaki,” ungkap Sutomo.

Untuk membendung perluasan karhutla, pengelola hutan telah menyiapkan sekat bakar guna memutus jalur rambatan api. Hingga saat ini, titik kebakaran dipastikan masih berada jauh dari pemukiman warga sehingga belum menimbulkan kerugian material bagi masyarakat sekitar Ngliman.
“Masih jauh. Belum ada kerugian dari masyarakat sekitar Ngliman,” ujarnya.
Kendati demikian, Sutomo memperingatkan bahaya pekatnya asap kebakaran jika dibiarkan berlangsung lama karena dapat memicu gangguan pernapasan bagi warga.
Sutomo mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di area pegunungan, agar meningkatkan kewaspadaan penuh di tengah musim kemarau dan menghentikan kebiasaan membakar lahan.
“Kami mengharapkan seluruh warga Kabupaten Nganjuk, khususnya di wilayah yang terjadi kebakaran, untuk senantiasa berhati-hati dan waspada saat beraktivitas di wilayah pegunungan,” tuturnya.
“Kami juga mengimbau untuk tidak melakukan pembakaran dalam membuka lahan. Ini sering kali terulang menjelang musim hujan,” sambungnya.
Ia meyakini peristiwa karhutla ini tidak lepas dari kelalaian oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja menyalakan api di kawasan hutan kering.
“Kami yakin ini dilakukan oleh tangan-tangan yang mungkin kurang bertanggung jawab,” pungkasnya.










