BANGSAONLINE.com - Ketua Dewan Pembina Partai Ummat Amien Rais turut menyoroti persidangan gugatan terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK).
Menurut Amien, Gibran saat ini mungkin merasa berada dalam posisi kuat karena ia menilai mayoritas hakim konstitusi masih mempertahankan pola pikir yang sama seperti pada era kepemimpinan Anwar Usman.
Namun, Amien memberikan apresiasi kepada tiga hakim konstitusi, yakni Arsul Sani, Saldi Isra, dan Enny Nurbaningsih, yang menurutnya menunjukkan sikap berbeda dalam perkara tersebut.
Ia menilai ketiga hakim tersebut mendorong adanya pembuktian lebih lanjut mengenai dokumen pendidikan Gibran, termasuk dokumen pendidikan menengah yang diperoleh di luar negeri, bukan hanya surat keterangan penyetaraan dari Kementerian Pendidikan.
"Ada tiga hakim konstitusi yang masih berpikir jernih, waras dan terus menghirup angin kebenaran, kejujuran, dan keberanian. Sementara enam hakim lainnya sepertinya main aman," tegas Amien.
Dalam perkara tersebut, para pemohon memang mempersoalkan pemenuhan syarat pendidikan Gibran saat pencalonan pada Pemilu 2024. Mereka meminta MK menguji persoalan tersebut melalui perkara PHPU Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026.
Amien juga menyatakan sejalan dengan dalil hukum yang diajukan pemohon, Denny Indrayana, yang mempersoalkan dokumen penyetaraan pendidikan Gibran dan proses penerbitannya.
Ia menilai gagasan untuk mendiskualifikasi Gibran sebagaimana dimohonkan para pemohon lebih efisien dibandingkan menempuh mekanisme pemakzulan melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Jika permohonan tersebut dikabulkan sesuai petitum yang diajukan pemohon, Amien menyebut proses selanjutnya akan berkaitan dengan mekanisme pengisian jabatan Wakil Presiden sebagaimana diatur dalam konstitusi.
"Kalau preseden ini diterima, Jokowi akan bingung. Sangat bingung," tambahnya.
Terlepas dari proses persidangan yang masih berjalan, mantan Ketua MPR tersebut meminta Denny Indrayana dan publik bersabar menunggu perkembangan perkara serta dinamika politik berikutnya.
Amien kemudian menyampaikan pandangannya mengenai Pemilu 2029 dan kemungkinan peta dukungan partai politik terhadap Gibran, termasuk peluang Partai Solidaritas Indonesia (PSI) apabila mampu memenuhi ambang batas parlemen.
"Jadi, apakah masa depan Gibran dan ayahnya masih suram? Indonesia 2029, menurut saya, adalah Indonesia tanpa Jokowi dan keluarganya. Indonesia yang mungkin lebih tenang dan aman. Kita bisa menjalankan tugas sehari-hari tanpa terus diganggu isu seputar Gibran bin Jokowi," pungkas Amien.










