123 Mahasiswa Jatim Dibiayai Kuliah ke Al Azhar, M Mas'ud Apresiasi Khofifah

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Sebanyak 123 mahasiswa asal Jawa Timur mendapat fasilitasi beasiswa Pemprov Jatim untuk menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, sebagai bagian dari upaya menyiapkan kader intelektual Muslim.

Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said, mengapresiasi program tersebut yang dinilainya sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan ulama muda dengan penguasaan ilmu keislaman, kemampuan akademik, serta wawasan Islam moderat.

Apresiasi itu disampaikan Mas’ud setelah melakukan kunjungan dan pemantauan mahasiswa Jawa Timur di Kairo bersama tim Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jatim.

“Saya baru memahami bahwa ini adalah tanaman kader yang penting dari Khofifah untuk membuat Islam Indonesia masa depan lebih hebat dan terukur,” kata Mas’ud dalam laporannya dari Kairo, Mesir.

Menurut Mas’ud, program beasiswa tersebut tidak sekadar memberikan kesempatan kepada mahasiswa Jawa Timur untuk menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka dunia.

Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun fondasi keilmuan Islam yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Ia mengaku melihat langsung kemampuan mahasiswa asal Jatim selama menempuh pendidikan di Al Azhar. Para mahasiswa dinilai tidak hanya kuat dalam penguasaan kitab-kitab klasik, tetapi juga mampu bersaing dalam berbagai kompetisi akademik, termasuk tingkat internasional.

“Sebagian besar mahasiswa yang saya wawancarai di kampus Al Azhar tidak hanya kuat dalam kitab-kitab klasik, tetapi juga tangguh. Sebagian mereka adalah juara di kampusnya dan menang dalam kompetisi internasional dengan persaingan yang ketat,” ujarnya.

Selain kemampuan akademik, mahasiswa Jatim juga menunjukkan penguasaan bahasa Arab dan literatur Islam klasik yang baik. Sejumlah mahasiswa bahkan mulai menghasilkan karya akademik berupa buku, ulasan, hingga artikel ilmiah.

“Rata-rata kader memiliki semangat kelas satu. Saya bangga bisa berdiskusi dengan cendekiawan muda yang memiliki pemahaman Al Quran mendalam. Mereka muda, berprestasi, mandiri, dan penuh semangat,” kata Mas’ud.

Ia menilai capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan kader intelektual Muslim melalui pendidikan di Al Azhar mulai menunjukkan hasil.

Para mahasiswa tersebut dinilai memiliki potensi menjadi ulama muda yang menguasai ilmu keislaman sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia.

Program beasiswa mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar telah berjalan sejak 2021 dengan memfasilitasi 123 mahasiswa jenjang S1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan sarjana pada berbagai bidang keislaman, seperti tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, dan sejarah peradaban Islam.

Program tersebut kemudian diperluas. Sejak 2025, Pemprov Jatim melalui LPPD meningkatkan cakupan program dengan memfasilitasi 60 mahasiswa untuk menempuh pendidikan magister atau S2.

“Setelah berpengalaman beberapa tahun, mulai 2025 Pemprov Jatim melalui LPPD meningkatkan program strategisnya dengan memfasilitasi 60 mahasiswa S2 yang memenuhi syarat. Ini menunjukkan program sudah naik kelas,” ungkapnya.

Bidang studi yang ditekuni para mahasiswa tersebut cukup beragam, mulai tafsir, hadis, ushul fikih, ushuluddin, pengembangan bahasa Arab hingga studi kebudayaan Islam.

Mas’ud menilai keputusan memperluas program beasiswa tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang berkelanjutan.

Menurutnya, penguatan kualitas sumber daya manusia di bidang keilmuan Islam membutuhkan proses panjang dan pendampingan yang konsisten.

Mahasiswa Jawa Timur yang menempuh pendidikan di Al Azhar tidak seluruhnya berasal dari program beasiswa Pemprov Jatim.

Sejumlah mahasiswa juga dikirim secara mandiri oleh pondok pesantren, di antaranya Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Dalwa Bangil, dan Tebuireng Jombang.

Latar belakang pendidikan pesantren, kata Mas’ud, menjadi salah satu modal penting mahasiswa dalam menguasai literatur Islam klasik sekaligus memperdalam bahasa Arab.

Dalam kunjungannya ke Kairo, Mas’ud juga berdiskusi langsung dengan mahasiswa di sejumlah tempat tinggal mereka. Ia melihat para mahasiswa menjalani kehidupan secara sederhana dan mandiri selama menempuh pendidikan di Mesir.

“Sebagian besar mereka produktif, banyak menjadi juara baca kitab klasik, meresensi buku utama para syaikh Al Azhar, dan menerjemahkan berbagai kitab penting,” ujarnya.

Mas’ud menambahkan, keberhasilan program beasiswa tidak hanya diukur dari kemampuan mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan juga menjadi faktor penting.

Karena itu, Pemprov Jatim melalui LPPD melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun nonakademik.

Evaluasi tersebut mencakup pendampingan penulisan ilmiah, pemeriksaan kesehatan, kemampuan menulis, hingga pemantauan kelulusan tepat waktu.

Menurut Mas’ud, pendampingan diperlukan agar para penerima beasiswa mampu menyelesaikan studi dengan baik sekaligus memiliki bekal keilmuan yang kuat ketika kembali ke Indonesia.

Ia berharap program tersebut terus dikembangkan sehingga semakin banyak kader intelektual Muslim asal Jawa Timur yang memiliki kapasitas akademik dan keilmuan Islam berstandar internasional.

“Saya yakin kader-kader ini akan mewarnai Islam Indonesia lima hingga sepuluh tahun mendatang, serta menguatkan transformasi kebudayaan unggul yang kita tunggu-tunggu,” pungkasnya. (dev/van)