NGAWI, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kabupaten Ngawi memastikan ketersediaan beras di wilayahnya dalam kondisi aman hingga akhir 2026. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi, Angga Romadona.
Angga mengungkapkan, produksi beras di Kabupaten Ngawi jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi masyarakat. Jumlah produksi beras di Ngawi mencapai sekitar 1.390.497 ton.
Sementara itu, berdasarkan neraca kebutuhan dalam satu tahun, total kebutuhan beras masyarakat Ngawi mencapai sekitar 1.317.693 ton. Dengan demikian, masih terdapat surplus sekitar 73.413 ton.
“Kalau kita lihat secara keseluruhan, produksi beras kita mencapai 1.390.497 ton. Sementara kebutuhan dalam satu tahun sekitar 1.317.693 ton, sehingga masih ada surplus sekitar 73.413 ton,” ujar Angga.
Angga menjelaskan, tingkat konsumsi masyarakat Ngawi hanya sekitar 30 persen dari total produksi beras. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 417 ribu ton, dengan rata-rata kebutuhan masyarakat sekitar 34.100 ton per bulan.
“Untuk konsumsi masyarakat sendiri sekitar 30 persen dari jumlah produksi, kurang lebih 417 ribu ton. Rata-rata kebutuhan sekitar 34.100 ton setiap bulan,” jelasnya.
Menurut Angga, kondisi tersebut menunjukkan ketersediaan pangan, khususnya beras, masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ngawi. Bahkan, sebagian beras hasil produksi petani Ngawi juga dikirim untuk memenuhi kebutuhan di sejumlah daerah lain.
Meski ketersediaan beras dalam kondisi aman, Pemkab Ngawi tetap mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pemborosan pangan. Masyarakat diminta mengonsumsi pangan secara bijak dan menghindari membuang makanan.
Imbauan tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah pusat dalam mengurangi pemborosan pangan dan menjaga ketahanan pangan.










