Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 49-51. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
49. Qul yā ayyuhan-nāsu innamā ana lakum nażīrum mubīn(un).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, aku hanyalah sebagai pemberi peringatan yang nyata kepadamu.”
50. Fal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa rizqun karīm(un).
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ada ampunan dan rezeki yang mulia (halal dan memuaskan).
51. Wal-lażīna sa‘au fī āyātinā mu‘ājizīna ulā'ika aṣḥābul-jaḥīm(i).
Adapun orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah para penghuni (neraka) Jahim.
TAFSIR
Dari siratan ayat sebelumnya, terbaca bahwa penduduk Makkah waktu itu berada dalam kebimbangan, antara mempertahankan tradisi leluhur yang animistik dan menyembah berhala atau pindah keyakinan seperti yang didakwahkan nabi Muhammad SAW, yaitu beriman hanya kepada Allah SAW saja sebagai Tuhan satu-satunya.
Pihak yang mengeroyok Islam tidak hanya para kafir dan penyembah berhala saja, melainkan ada juga kaum Yahudi dan ada pula kaun Nasrani yang menuhankan nabi Isa A.S. sebagai anak Tuhan, sekaligus Tuhan.
Pro dan kontra ini semakin hari semakin meruncing. Karena kekuatan nonmuslim lebih banyak, maka pengikut Rasululah SAW ini ditindas dan disakiti.
Mereka sungguh tega menghabisi orang lain yang tidak seiman, padahal kaum muslimin sama sekali tidak pernah mengganggu. Berbeda, ketika nonmuslim minoritas di negeri muslim mayoritas. Mereka aman dan diberi kebebasan menjalankan ritual agamanya dengan syarat tertentu.
Ketika islam mengedepankan argumen teologisnya, orang-orang kafir penyembah berhala terbelalak dan berpikir. “Berhala itu kalian sendiri yang membuat, kalian sendiri yang memberi nama, tak bisa apa-apa, tak ada manfaat dan tak ada bahaya apa-apa. Kok kalian sembah?”
Begitu halnya terhadap para penyembah nabi Isa A.S. Dia tak lebih dari seorang manusia yang menjadi nabi. Meski punya kelebihan, tetapi tidak berarti Tuhan. Dia dilahirkan dari rahim seorang ibu. Lha wong Tuhan kok tidak bisa lahir sendiri.
Nabi Isa juga lahir belakangan, setelah kehidupan dunia berjalan ribuan tahun. Lha sebelum dia lahir, manusia bertuhan siapa? Katanya mati disalib, kok Tuhan bisa mati? Dst, dst.
Setelah dialog panjang dengan masyarakat dan mereka terbungkam, Tuhan memerintahkan Nabi Muhammad SAW menutup perdebatan tersebut dengan tesis: “Saya ini pemberi nasihat yang jelas, pemberi peringatan yang tegas, dan sekadar menyampaikan. Keputusan mutlak ada di tangan kalian. Tak ada paksaan dan tidak ada yang mengintimidasi dalam agama kami.” (innamā ana lakum nażīrum mubīn).
Siapa saja yang beriman dan beramal shalih, maka baginya ampunan dari Tuhan dan rezeki berlimpah, terhormat, dan prestisius. Itulah surga di sana nanti.
Sebaliknya, barang siapa ingkar dan suka berbuat onar, menindas, dan menyakiti, maka dia pasti nyungsep di neraka jahim, siksa sangat pedih, dan memilukan.
Gambaran surga dan neraka ini logis dan diterima akal sehat serta berlalu di kehidupan kita. Di dunia ini ada hotel, tempat orang bersenang-senang, karena mempunyai uang banyak dan menikmati hidup. Ada juga penjara, tempat orang dihukum karena melakukan kesalahan.
Anda menjadi pejabat berkuasa, tinggal memilih saja: Mau korupsi dan penjara risikonya atau mau jujur dengan tetap terhormat, meski mungkin kurang kaya raya. Apa artinya uang haram yang nyatanya mengantar anda ke neraka. Bahkan sudah diawali dengan neraka dunia, penjara.
Orang beriman itu tidak mungkin korupsi, karena merasa selalu dikontrol Tuhan. Merasa malu, takut, lalu tak melakukan. Lha kok ada yang korupsi? Saat itu imannya dilepas, Tuhannya dibelakangi, sementara uang di depan matanya sangat diminati.










