“Mereka rawan tertular lewat perilaku seks bebas. Melalui one day service yang kami gelar hari ini, mereka bisa mendapatkan sosialisasi tentang HIV/AIDS. Setelah paham, mereka akan mendapatkan konseling secara pribadi dan melakukan tes HIV/AIDS yang hasilnya keluar hari ini juga. Bagi yang positif harus segera berobat,” ujar Tunggul.
Bagi mereka yang hasil tesnya negatif pun, kata Tunggul, harus rutin periksa minimal sebulan sekali. “Ini memang baru pertama kalinya kami gelar di sini. Selanjutnya secara rutin akan terus kami adakan. Tak hanya di sini, tapi juga di ASDP dan LCM. Target kami sampai dengan akhir tahun ini, 5 ribu orang terpapar informasi dan 1500 orang mau melakukan tes HIV/AIDS,” terangnya.
Tes yang melibatkan tenaga medis Puskesmas Klatak ini, untuk memeriksa voluntary counseling testing (VCT) secara sukarela. “Karena di kawasan pelabuhan ini belum terdapat kelengkapan fasilitas kesehatan untuk HIV/AIDS, kami mendapatkan dukungan dari Puskesmas Klatak-Kalipuro untuk penyediaan mobile VCT dan layanan teknisnya,” tambahnya.
Di Banyuwangi terdapat 29 puskesmas dan 2 RS umum yang memiliki layanan VCT. Dari kegiatan yang gencar dilakukan oleh KPA dan Pemkab Banyuwangi pada 2012 ditemukan 313 kasus HIV/AIDS di Banyuwangi.










