"Hampir setiap rumah memiliki pohon kopi. Ini sudah ada turun temurun. Pohon-pohon kopi di sini sudah berusia puluhan tahun," kata Masridin (65), salah satu pemilik lahan kopi di Lerek.
Berangkat dari tradisi tersebut, warga desa Gombengsari berinisiatif menggelar festival kembang kopi. Festival ini pun menyuguhkan segala yang berbau kopi. Mulai dari pembukaan acara yang diisi tari petik kopi, hingga pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi.
Saat festival berlangsung, puluhan ibu-ibu bertopi caping memetik buah kopi di hamparan kebun kopi yang nampak rimbun milik seorang warga, Taufik. Hanya buah kopi berwarna merah tua yang dipilih untuk kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang terkalung di leher.
Di pekarangan rumah Taufik, para pengunjung lalu ditunjukkan proses pengolahan kopi. Mulai dari pengupasan, pencucian, penjemuran sampai penggilingan kopi dengan menggunakan mesin. Di sini pun terlihat proses transformasi buah kopi segar hingga menjadi biji kopi kering.










