“Masuklah pejuang itu ke dalam pesantren. Saat mau ikut masuk ke dalam pesantren itulah mereka ditampakkan oleh seekor ular naga raksasa mengelilingi pesantren. Spontan saja mereka (tentara belanda) berlari ketakutan meninggalkan Kampung Bureng dengan tangan kosong,” cerita Mas Zain, sapaan KH Mas Muhammad Zaini Mahmud.
Pernah satu ketika, Pemerintah Belanda berencana membuat jalan tembus dari RSAL sekarang menuju kantor Kodam V Brawijaya. Namun setelah diteropong oleh ahlinya, wilayah yang termasuk Kampung Bureng ini tidak dapat ditembusnya. Akhirnya tidak jadi membuat jalan tembus tersebut.
“Dulu markas Kodam V Brawijaya yang sekarang ini dipakai Belanda sebagai gudang senjatanya,” ungkap Mas Zain.
Sampai saat ini masih belum ada yang menemukan data terkait kapan berdirinya Kampung Bureng. Namun yang pasti, ada satu makam waliyullah yang merupakan pendiri Masjid Bureng yakni, makam Mbah Habib, masih berhubungan dengan asal-usul berdirinya kampung ini.










