Ludruk Irama Budaya Surabaya, Mencoba Bertahan dengan Minimnya Fasilitas THR

Dengan penonton yang tak begitu banyak dan tiket masuk yang dibandrol hanya Rp 10 ribu, anggota kelompok ludruk tak bisa mengandalkan penghidupan pada kesenian ludruk. Pentas ludruk dijadikan sampingan dan bentuk kecintaan mereka terhadap kesenian ludruk serta upaya melestarikan kesenian tradisional. Jika penonton sepi, sedangkan para pemain sudah berhias, maka pertunjukan tetap dimainkan, dan penonton digratiskan. Itupun penonton yang mau menyaksikan sangat minim.

Sembari berupaya meregenerasi pemainnya, Lurdruk Irama Budaya mengembangkan jalan cerita lakonnya. Ia dan tim menambahkan lawakan disesuaikan dengan isu-isu kekinian seperti media sosial atau politik. “Yang penting tidak meghilangkan pakem ludruk, tetap ada gamelan, jula-juli, remo, dan bedayan. Pakem itu tidak boleh dihilangkan,” kata Deden.

Di sisi lain, sarana dan prasarana yang disediakan pemerintah Kota Surabaya untuk mendukung pelestarian ludruk dinilai kurang diperhatikan, sehingga membuat kurangnya antusias penonton dan mulai ditinggalkan penggemar.

Suasana pintu gerbang yang menyambut pengujung tampak begitu gelap, hanya ada penerangan lampu ala kadarnya dan bisa dibilang kurang. Gedung pertunjukan seni ludruk juga nampak sangat sederhana hanya ada kursi seadanya, gamelan dan panggung yang tidak terlalu besar dengan background lukisan khas kesenian ludruk, beberapa bangunan juga terlihat sudah reyot sehingga butuh renovasi.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: