Dengan demikian, lanjutnya, akan tercipta perajin-perajin baru yang berkompeten karena telah berguru pada mentor yang tepat dan ahli di bidangnya. Tentunya juga dibekali dengan pakem yang berlaku selama ini. Dekranasda Jatim secara tidak langsung juga bertanggung jawab dalam regenerasi perajin. Sehingga dengan adanya MJC seirama dengan program Dekranasda Prov. Jatim.
"Peserta MJC akan dilatih oleh mentor yang profesional, dan kemudian akan didampingi sampai mendapatkan order dari klien. Dekranasda Prov. Jatim bersama MJC tidak akan langsung melepas para peserta tapi terus mengawasi dan memberikan panduan," ujarnya.
Keberhasilan MJC tidak lepas dari peran mentor. Mencari mentor yang tepat sangat sulit. Arumi mencontohkan, tidak semua media creator itu sudah ada sekolahnya. Dengan demikian, dicari mentor yang harus memiliki pengalaman. Selain itu, juga harus dilakukan pemilihan mentor yang selektif sesuai kualifikasi.
"Nantinya diharapkan para talent akan memiliki project seperti yang selama ini diperoleh mentor," imbuhnya.
Dirinya menambahkan, dengan semakin banyaknya talent yang dilahirkan MJC, semakin hari akan bertambah kemampuannya, dan tentunya diimbangi dengan project yang dikerjakan. Project seperti itu, baik kecil maupun besar harus dimasukkan ke dalam portfolio, sehingga klien yang akan menggunakan jasa bisa melihat dari portfolio tersebut yang ada di MJC. Klien akan melihat kualitas talent, model jasanya, dan harga yang fair bagi kedua belah pihak.
"Semakin banyak portfolio maka tarif jasanya akan semakin mahal, karena ukurannya adalah pengalaman dalam mengerjakan projek," tambahnya. (mdr/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




