Senin, 02 Agustus 2021 22:11

Selalu Bahasa Madura, Kiai Nawawi Abdul Jalil Pemegang Teguh Tradisi Pesantren

Minggu, 13 Juni 2021 20:49 WIB
Editor: mma
Selalu Bahasa Madura, Kiai Nawawi Abdul Jalil Pemegang Teguh Tradisi Pesantren
M Mas'ud Adnan

Oleh: M Mas’ud Adnan --- Saat beliau masih hidup. Saya beberapa kali sowan. Ke KH Nawawi Abdul Jalil. Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Yang sore tadi dikabarkan wafat. Innalilallahi wainna ilaihi roji’un.

Tentu saya tak sendirian. Tapi bersama rombongan kecil. Tapi dipimpin orang besar. KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Ya, saat cucu pendiri NU Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari itu masih hidup. Saat aktif sosialisasi "NU bersih". 

Atau lebih tepatnya saat Gus Sholah gencar menegakkan khittah NU. Yang sulitnya bukan main. Namun tetap dilakukan. Dengan tegar. Dengan sabar. Agar NU tak terus menerus terkontaminasi politik dan uang.

Respons Kiai Nawawi luar biasa. Kiai yang selalu berpenampilan sederhana itu menyambut hangat Gus Sholah.

BACA JUGA : 

Pertanyakan Dana Penanganan Kasus Covid-19 Baru Terpakai 11 Persen, Belasan LSM Luruk DPRD Pasuruan

Keberatan SMPN 2 Bangil Dijadikan Tempat Isolasi, Wali Murid Ajukan Audiensi ke DPRD

Buka Kesadaran Masyarakat, Pengusaha Kafe di Pasuruan Gelar Teatrikal Tunggal

Kapolres Pasuruan Pimpin Pembagian Masker dan Beri Edukasi ke Pedagang dan Pembeli di Pasar Pandaan

Gus Sholah pun sowan lagi. Ke Sidogiri. Beberapa minggu kemudian.

Kali ini Gus Sholah mengundang para kiai. Untuk sharing “NU bersih”. Sesuai khitah 26. Bersih dari politik dan money politics.

Untuk silaturahim kedua ini Kiai Nawawi menyiapkan ruangan khusus. Maklum, Gus Sholah mengundang banyak kiai. Sekitar 30 kiai. Dari berbagai daerah.

(KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat diterima KH Nawawi Abdul Jalil di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, saat dua kiai itu masih hidup. Tampak KH Azaim Ibrahimi, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan KH Hisyam Syafaat, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. foto: Ustadz Amin Zen Tebuireng)

Kiai Nawawi ikut pembukaan pertemuan itu. Para kiai pun penuh semangat. Merasa disupport. Sharing tentang NU berlangsung hangat.

Saya selalu memperhatikan Kiai Nawawi. Termasuk semua pecakapan yang beliau lontarkan. Saya berkesimpulan. Kiai Nawawi adalah pemegang teguh tradisi pesantren. Tawadlu’. Ta’dzim. Terutama pada guru.

Loh, apakah Kiai Nawawi berguru pada Gus Sholah?

“Salah satu pengasuh Pondok Sidogiri pernah mondok di Tebuireng,” kata Kiai Nawawi Abdul Jalil suatu ketika saat menyikapi Gus Dur dalam percaturan politik nasional. Karena itu ia minta semua santri dan alumni Sidogiri mendukung Gus Dur.

Bayangkan. “Hanya” karena salah satu Pengasuh Pondok Sidogiri pernah mondok di Tebuireng. Tapi Kiai Nawawi ikut ta’dzim. Bahkan Kiai Nawawi juga minta agar semua santri dan alumni Sidogiri ta’dzim pada Kiai Tebuireng.

Bukankah ini sikap ta’dzim luar biasa? Nah, inilah salah satu dasar mengapa saya berkesimpulan bahwa Kiai Nawawi Abdul Jalil pemegang teguh tradisi pesantren.

Belakangan saya baru dengar informasi. Bahwa Kiai Nawawi justru sering ke Pesantren Tebuireng. Tapi saat itu Gus Sholah minta jangan dipublikasikan. Silaturahim Gus Sholah ke Sidogiri justru silaturahim balasan. Karena sebelumnya Kiai Nawawi yang silaturahim ke Tebuireng.

Kiai Nawawi memang sangat ta’dzim pada dzuriyah Tebuireng. Terutama pada Gus Sholah dan Gus Dur. Putra KH A Wahid Hasyim. Yang juga cucu Hadratussyaikh. 

Lebih-lebih pada Gus Dur. Yang pernah jadi ketua umum PBNU. Tiga periode. Dan Presiden ke-4 RI.

Tentu Kiai Nawawi ta'dzim pada Gus Dur dan Gus Sholah juga karena cucu pendiri NU. Saya kira semua kiai yang paham kultur NU niscaya ta'dzim pada dzuriyah. Hanya kiai yang tak paham kultur NU yang tidak hormat pada cucu pendiri NU.

Bahkan Kiai Nawawi tidak hanya ta’dzim. Tapi juga fanatik pada Gus Dur. Setidaknya ini penilaian subyektif saya.

Saya mendengar sendiri saat Kiai Nawawi merespons kontroversi petinggi PBNU pasca Gus Dur. Yang suka membuat pernyataan kontroversial.

Lap mahelap. Niroah Gus Dur. Tak Bisa. Derejaddeh laen,” demikian kira-kira komentar Kiai Nawawi dalam bahasa Madura. Arti bebasnya, berlagak nylenih. Mau niru Gus Dur. Tak bisa. Derajatnya beda atau lain.

Kiai Nawawi memang selalu berbahasa Madura. Penampilannya sangat sederhana. Namun kharisma dan dedikasinya luar biasa.

Kini Kiai Nawawi Abdul Jalil telah dipanggil Sang KekasihSemoga patah tumbuh hilang berganti. Sehingga pondok pesantren Sidogiri yang santrinya puluhan ribu itu makin maju dan penuh manfaat. Bagi umat. Sekaligus mewarisi nilai-nilai mulya yang telah Kiai Nawawi wariskan. Wallahua’lam bisshawab.

Respons Keluhan Ojol Karena Terdampak Pandemi, ASC Foundation Bagikan Paket Sembako dan Uang Bensin
Kamis, 29 Juli 2021 13:40 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Muhammad Al Barra bersama Tim ASC Foundation-nya, telah menyalurkan paket sembako kepada para pedagang terdampak PPKM darurat di 12 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Aksi sosial ini terus dilakukan Gus Barra. Kali i...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Senin, 02 Agustus 2021 11:32 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...