Senin, 02 Agustus 2021 23:20

Wanita Indonesia Ganti Hati di Iran, Bukan Lagi Tiongkok, Dokternya Tangani Lebih 10.000 Transplant

Senin, 21 Juni 2021 06:15 WIB
Editor: mma
Wanita Indonesia Ganti Hati di Iran, Bukan Lagi Tiongkok, Dokternya Tangani Lebih 10.000 Transplant
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Meski diblokade oleh Amerika Serikat (AS), ternyata Iran tetap berkembang. Bahkan ilmu kedokteran di negeri para mullah itu berkembang sangat dahsyat. Termasuk transplantasi hati. Dokternya, Dr Ali Malek Hosseini, sudah menangani lebih 10.000 kali transplant. Ingat! Ibnu Sina, bapak kedokteran dunia lahir di Iran!

Kini orang Indonesia memilih ganti hati di Iran, bukan Tiongkok.

Benarkah? Silakan ikuti tulisan menarik Dahlan Iskan, wartawan handal, di Disway, HARIAN BANGSA, dan BANGSAONLINE.com hari ini, 21 Juni 2021. Selamat membaca:

SEBENARNYA saya tidak heran, tapi terkejut juga: ada orang Indonesia memilih transplantasi liver di Iran. Sukses pula. Sekarang masih di rumah sakit di sana. Menunggu kapan boleh pulang.

BACA JUGA : 

Dahlan Iskan Minta Maaf, Abaikan Si Cantik Rambut Keriting, Nulis Rp 2 Triliun Hingga 4 Tulisan

Si Cantik Stres, Sumbangan Keluarga Akidi Tio Rp 2 Triliun pada Kapolda Sumsel Belum Cair

Akidi Menampar Banyak Konglomerat Negeri Ini

Pengusaha Rendah Hati, Nyumbang Rp 2 Triliun ke Kapolda Sumsel, untuk Apa?

Sudah lama saya dengar –dari dokter ahli Indonesia– bahwa ilmu kedokteran di Iran sangat maju. Transplant apa saja bisa. Termasuk transplant pankreas dan sumsum. Bahkan kemampuan di bidang stemcell-nya masuk lima terbaik dunia.

Tapi baru sekali ini saya tahu: ada orang Indonesia memutuskan melakukan transplantasi hati ke Iran. Berarti Tiongkok bukan satu-satunya pilihan lagi. Atau Singapura.

Yang transplantasi hati ke Iran itu seorang wanita. Janda. Dengan donor putrinya sendiri.

Sang putri berumur 22 tahun. Masih kuliah di semester akhir di Universitas Trisakti Jakarta. Jurusan arsitektur.

Trisakti memberikan kelonggaran kepada sang putri: skripsi tugas akhirnya boleh mundur. Dia harus ikut ibunyi ke Iran. Hati sang putri harus dipotong setengahnya. Untuk menggantikan hati ibunyi yang sudah rusak –akibat sirosis. Hati sang ibu sudah dibuang total. Untuk diisi separo hati milik sang putri.

Kini sang putri masih dirawat di rumah sakit yang sama. Hati sang calon arsitek –yang tinggal separo itu– akan utuh kembali dua bulan lagi. Sedang separo hati yang dipasang di sang ibu akan menjadi hati yang utuh tiga bulan mendatang.

Hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh begitu cepat. Telinga juga bisa tumbuh tapi terbatas.

Cara transplant seperti itu juga berhasil dilakukan selebriti Setiawan Djody –juga dari hati milik putrinya. Di Singapura. Lebih 10 tahun lalu.

Sedang yang saya alami berbeda. Saya mendapatkan hati utuh dari seseorang yang meninggal muda di Tianjin, Tiongkok.

Yang lebih mengejutkan saya: transplantasi itu bukan dilakukan di Teheran, ibu kota Iran. Bukan pula di kota besar lainnya seperti Mashhad dan Isfahan. Tapi di kota Shiraz –mungkin kota besar keempat atau kelima di Iran. Saya belum pernah ke Shiraz.

"Kami pilih ke Shiraz karena ada departemen internasionalnya," ujar Mochamad Baagil, kakak pasien. "Sebenarnya saya sendiri yang akan memberikan separo hati saya ke kakak. Tapi tidak cocok," ujar Baagil.

Sebenarnya, kata Baagil, banyak rumah sakit di Iran yang bisa melakukan transplant. Tapi lebih untuk orang Iran sendiri. Sedang yang di Shiraz ini untuk internasional. Banyak pasien dari Qatar, Uni Emirat Arab, dan negara sekitar.

Keluarga Baagil ini asli Kudus. Tapi sudah lama pindah ke Jakarta. Baagil sendiri tamat SMA masih di Kudus, di SMAN 2. Lalu kuliah di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta jurusan teknik sipil. ISTN dulunya dikenal sebagai Akademi Teknik Nasional (ATN) yang didirikan ahli beton terkemuka Indonesia Prof Dr Roosseno Soerjohadikoesoemo. ISTN berada di bawah Yayasan Perguruan Cikini. Yang punya lembaga pendidikan terkenal di Jalan Cikini Jakarta.

Setelah lulus ISTN dengan pujian Baagil langsung ke S2 di Technische Universität Dresden, Jerman. Kini Baagil bekerja sebagai konsultan perusahaan asing di Jakarta untuk masalah gedung-gedung pencakar langit.

Baagil juga masih di Shiraz. "Saya tunggu sampai kakak boleh pulang," ujarnya pada saya kemarin.

Meski Shiraz agak jauh di timur laut Teheran, ternyata keluarga ini tidak harus mendarat dulu di Teheran. "Ada pesawat langsung dari Dubai ke Shiraz," ujar Baagil.

Ternyata kota Shiraz cukup besar. Penduduknya sekitar 4 juta –sekelas Surabaya. Ini kota tua. Kekaisaran Parsi zaman dulu beribu kota di Shiraz. Karena itu peradaban dan ilmu pengetahuan di Shiraz sangat maju.

Yang saya juga heran: di Shiraz, di tengah blokade ekonomi Barat, berhasil dibangun mal besar. Salah satu yang terbesar di dunia. Ini berita baru bagi saya. Waktu saya ke Iran dulu mal belum ada. Tidak terlihat bangunan atau toko jelek tapi juga tidak ada mal. Tidak ada kaki lima tapi juga tidak ada supermarket internasional. Tidak ada mobil jelek tapi juga tidak ada Mercy di jalan-jalan. Berarti Iran sudah berubah banyak. Dan memang mal ini masih baru. Belum genap lima tahun.

Di tengah blokade Amerika yang begitu keras dan panjang ternyata ekonomi Iran masih jalan. Memang inflasi di negara itu tertinggi di dunia. Mata uangnya menjadi yang terlemah dibanding negara mana pun. Tapi semangat hidupnya tidak bisa diblokade.

Saya jadi ingat ketika mengunjungi instalasi LNG dan pabrik turbin di Iran. Saya harus akui: Iran adalah satu-satunya negara Islam yang mampu memproduksi turbin untuk pembangkit listrik besar.

Rumah sakit di Shiraz itu sendiri ternyata sangat besar. Modern. Seperti di Tianjin. Statusnya juga sama: RS Transplant Center. Bisa mengerjakan transplant organ apa saja di situ. Saya jadi ingat: bapak kedokteran dunia adalah orang Iran: Ibnu Sina. Yang di Barat dikenal sebagai Ibn Sina atau Avicenna. Yang juga dikenal sebagai bapak fisika.

Transplantasi hati untuk ibu dari Jakarta itu dilakukan oleh Dr Ali Malek Hosseini. Ia mendapat gelar ''Bapak transplant Iran''. Sudah 26 tahun Hosseini menjalankan transplantasi di sana. Sudah menangani lebih 10.000 kali transplant.

Dr Hosseini dua tahun lebih tua dari umur saya. Lahir di desa dan sampai SMA masih di desa itu. Lalu masuk D1 ilmu keguruan untuk kembali mengajar di desanya.

Dua tahun mengajar barulah Hosseini ikut tes masuk universitas. Diterima. Ia memilih fakultas peternakan.

Belum lagi lama di fakultas itu ibundanya meninggal dunia: sakit liver. Sejak itu Hosseini ikut tes lagi masuk fakultas kedokteran. Diterima.

Jadilah Hosseini dokter di Shiraz. Lalu dapat beasiswa memperdalam ilmu transplant di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Dari mana Baagil tahu kalau Iran punya kemampuan transplant itu? "Sejak tinggal di Jerman saya sudah tahu," ujarnya. Apalagi ia sendiri sudah beberapa kali ke Iran –meskipun baru sekali ini ke Shiraz.

Baagil kini menyiapkan diri untuk ke S-3. Juga di Jerman. Ia akan melakukan penelitian gedung tinggi dengan struktur tanpa balok.

Sejak SMA Baagil sudah tertarik mengikuti pembahasan soal apa yang terjadi di Iran. Termasuk aliran keagamaannya. Dan masuk ke dalamnya. (*)

Respons Keluhan Ojol Karena Terdampak Pandemi, ASC Foundation Bagikan Paket Sembako dan Uang Bensin
Kamis, 29 Juli 2021 13:40 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Muhammad Al Barra bersama Tim ASC Foundation-nya, telah menyalurkan paket sembako kepada para pedagang terdampak PPKM darurat di 12 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Aksi sosial ini terus dilakukan Gus Barra. Kali i...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Senin, 02 Agustus 2021 11:32 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...