Tafsir Al-Nahl 80: Bulu Babi, Silakan Dipakai Sikat Kopyah | BANGSAONLINE.com - Berita Terkini - Cepat, Lugas dan Akurat

Tafsir Al-Nahl 80: Bulu Babi, Silakan Dipakai Sikat Kopyah

Wartawan: -
Selasa, 07 Juni 2016 11:05 WIB

Ilustrasi

Lebih spektakuler dari itu, Abu Hanifah menambahkan, termasuk juga tulang, tanduk, gigi, gading dan kukunya, suci semua seperti bulunya. Tapi bagian akhir ini yang ditentang ulama lain seperti Malik dan al-Syafi'ie. Tanduk dan sebangsanya tadi tetap najis. Sementara al-Hasan al-Bashry agak hati-hati dan menambahkan: "bahwa bulu-bulu itu bisa suci bila disucikan lebih dulu, dibasuh dengan air".

Hadis riwayat Umm Salamah berkisah, ada kambing mati, lalu nabi menganjurkan agar kulitnya disamak. Dikuliti lebih dahulu, dibersihkan dan dikeringkan, maka bisa dimanfaatkan. Karena kambing sebagai contoh kasus, maka ulama memandang, bahwa kulit yang bisa disamak hanya kulit hewan yang halal dagingnya. Babi dan anjing dan hewan spesies baru yang lahir darinya tidak bisa.

Persoalannya kini adalah, apakah proses samak tersebut bisa mengubah keadaan najis menjadi suci atau sekedar pembolehan pemakaian saja, sementara kulit tetap najis?. Kulit samakan teap haram dimakan. Bagi ulama yang mengatakan proses samak mengubah najis menjadi suci, seperti madzahab syafi'iy, maka kulit samakan boleh dipakai sajadah shalat. Bagi ulama yang mengatakan tidak, hanya sekedar boleh pakai saja (intifa'), seperti pendapat al-Zuhry, maka menggunakan kulit samakan sebagai sajadah, maka shalat dihukumi tidak shah.

Soal kulit samakan, madzhab paling ketat adalah Imam Ahmad ibn Hanbal. Bahwa, meski sudah disamak, kulit bangkai tetap najis dan tak boleh dimanfaatkan. Kulit sama dengan daging. Bila dagingnya najis, maka kulitnya juga najis. Soal Hadis Umm Salamah, bagi Ahmad, Hadis itu direvisi oleh Hadis lain yang melarang yang disabdakan nabi sebulan sebelum beliau wafat (al-Jami' li Ahkam al-Qur'an:X/157). Allah a'lam.      

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video