Anang menerangkan, selama ini tiap musim kemarau petani di Desa Kebonrejo harus membeli air untuk menyiram tanaman. Adapun biaya yang dikeluarkan Rp 180 ribu per satu tangki ukuran 2.400 liter untuk sekali pengairan lahan seluas satu hektare.
"Padahal dalam musim tanam cabe sampai 20 kali pengairan, sehingga total biaya pengairan sekitar Rp 3,6 juta untuk tiap hektarenya," terangnya.
Selain mengurangi biaya produksi, dengan adanya embung itu petani juga masih bisa menambah musim tanam sekira satu bulan. "Sebagai gambaran, selama ini, pada bulan Juni air sudah tidak mencukupi untuk budi daya. Adanya embung itu, sampai bulan Juli air diharapkan masih tersedia," ujarnya.
Embung yang dibangun di dataran tinggi itu memiliki ukuran panjang 60 meter dan lebar 13 meter. Debit air yang bisa ditampung sekitar 2.500 meter kubik dengan potensi terdampak area lahan sekitar 25 hektare. Mayoritas komoditas petani di area tersebut tanaman jenis hortikultura, seperti cabe, tomat, dan sayur.










