Pra-Muktamar di Lombok, PWNU NTT: Ahwa Sudah Ditolak di Munas-Konbes!

”Munas dan Konbes kan sudah jelas. Ahwa ditolak. Kok masih ada Ahwa dalam Pra-Muktamar,” kata Abdullah . ”Ini (NU) organisasi. Jangan dipaksakan begitu saja. Kalau kita paham berorganisasi kita harus melalui mekanisme dan prosedur. Munas-Konbes itu forum tertinggi setelah Muktamar. Kalau sudah ditolak di Munas dan Konbes seharusnya sudah tak ada Ahwa lagi dalam Pra-Muktamar,” tegas Abdullah Ulumando.

Menurut Abdullah Ulumando, bukan hanya Ahwa yang ditolak oleh peserta Munas-Konbes yang terdiri dari PWNU seluruh Indonesia. “Draft PBNU yang mau mengganti PWNU dengan Konsul juga kita tolak,” tegas Abdullah Ulumando. Soal Konsul yang mau mengganti PWNU ini memang menjadi perbincangan hangat di internal NU. ”Konsul itu nanti ditunjuk oleh PBNU. Jadi tak ada pemilihan,” kata Abdullah Ulumando.

Begitu juga draft PBNU yang mau menghapus Katib Am dan A’wan. ”Semua kita tolak,” kata Abdullah Ulumando. Yang paling parah soal rencana PBNU mau menghapus pengurus ranting NU dan anak cabang NU. ”Itu maunya apa. Ranting itu kan kaki NU, kok mau dihapus,” kata Abdullah Ulumando. Ironisnya, rencana PBNU yang mau mengubah struktur organisasi secara radikal ini tak pernah sampai ke PCNU, apalagi ancab dan ranting. Menurut dia, sebagian PWNU sengaja menyembunyikan informasi ini kepada PCNU agar mereka tak tahu dan tak protes.

Sementara Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, dalam sambutannya masih berusaha meyakinkan sistem Ahlul Halli wal Aqdi sebagai metode dalam pemilihan Rais Am. Dijelaskannya, Ahlul Halli wal Aqdi yang berlandaskan musyawarah mufakat lebih tepat digunakan, dibandingkan sistem pemilihan langsung yang terkesan mengadu secara terbuka antar ulama kandidat Rais Aam.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Pra-Muktamar di Lombok, PWNU NTT: Ahwa Sudah Ditolak di Munas-Konbes! - Halaman 2