Grup WA Sangat Pribumi dan Sangat Tionghoa, Sangat Agama dan Anti Agama

Grup WA Sangat Pribumi dan Sangat Tionghoa, Sangat Agama dan Anti Agama Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Aneka grup WA muncul di semua pemilik HP. Dahlan Iskan, wartawan kondang, mengaku namanya tiba-tiba dimasukkan. Ada yang izin dan ada yang tidak.

Grup apa saja? Ada yang dan ada yang . Wah seru dong.

Penasaran? Baca saja tulisan mantan menteri BUMN itu di BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca:

Saya ini seperti Anda: jadi anggota grup WA. Lebih 15 grup. Saya jenis anggota yang juga seperti Anda: kurang aktif. Sering disindir kok hanya mantengi. Tidak pernah berkomentar.

Saya sendiri belum pernah minta untuk dimasukkan ke salah satu dari grup-grup itu. Tiba-tiba saja nama saya ada di situ. Sebagian memberi tahu lebih dulu. Lebih banyak yang dianggap pasti mau. Belakangan saya gak 'kejak'. Tidak mau tambah. Kalau dituruti bisa lebih 30. Belakangan saya langsung exit ketika muncul grup baru: sudah terlalu banyak. Kadang juga terlalu mirip.

Variasi grup yang saya ikuti itu lebar sekali. Ada yang sangat agamis. Misalnya ada yang selalu posting 'satu hari satu hadis'. Atau memposting bahan renungan: isinya ayat-ayat Quran. Banyak juga yang menulis agar kita lebih taat lagi beragama.

Di lain pihak saya juga diikutkan dalam grup yang tidak percaya agama. Bahkan tidak percaya Tuhan. Isinya seru sekali. Yang dibahas lebih banyak filsafat kebebasan berpikir. Juga tentang moralitas: apakah orang yang beragama moralnya pasti lebih baik. Apakah kian kelihatan beragama seseorang itu kian tinggi pula moralitasnya. Apakah yang tidak beragama tidak punya hak untuk bermoral baik.

Stop. Saya tidak boleh mengutip ulang apa yang ada di postingan grup itu. Aturan sebuah grup WA seperti aturan di sebuah keluarga. Tidak boleh mengutip isi pembicaraan di grup tanpa minta izin yang posting. Pembicaraan di situ untuk kepentingan intern keluarga. Bukan konsumsi umum.

Stop. Bisa sensitif.

Saya juga diikutkan grup yang khusus membahas pertanian. Ada juga yang khusus membahas komputer.

Ada lagi grup yang isinya mementingkan . Satu lagi grup yang sangat kapitalis. Lalu ada grup yang sangat Islam. Tapi ada juga yang sangat Kristen - -dan saya juga diikutkan di situ. Lalu ada yang sangat Buddha.

Bahkan ada grup dari aliran dan tahayul. Pun saya dimasukkan. Tentu ada juga grup yang sangat pribumi. Lalu ada pula yang sangat . Dua-duanya saya ada di dalamnya. Grup yang sangat politik banyak. Lalu grup yang sangat kesehatan.

Maka beraneka aspirasi berseliweran di HP saya. Otak saya pun mencelat-mencelat ke sudut sana-sini.

Di beberapa grup itu, kadang ada yang monoton. Misalnya kalau ada yang meninggal dunia. Isi grup hanya ucapan duka cita. Mulai pagi sampai besoknya. Seolah tidak ikut berduka kalau tidak posting dukacita di grup.

Saya tidak pernah ikut berduka di situ. Kasihan yang membaca, terutama yang harus menghapus begitu banyak data. Padahal belum tentu semua anggota grup kenal keluarga yang meninggal itu. Saya pilih kirim WA langsung ke keluarga yang berduka, kalau itu saya kenal.

Demikian juga kalau ada yang dapat gelar atau penghargaan. Isi grup itu ucapan selamat melulu.

Saya tidak seharusnya jengkel dengan yang seperti itu. Kan salah sendiri. Mengapa mau menjadi anggota grup dari begitu banyak aliran. Saya akhirnya menyadari itu salah saya sendiri. Ya sudah.

Saya biasa sudah bangun pukul 03.30. Mungkin begitulah umumnya orang tua. Dulu, jam 02.30 baru pulang kantor. Kini jam segitu sudah siap-siap bangun.

Tentu saya juga sama seperti Anda. Bangun tidur lihat layar HP. Di pagi seperti itu saya harus lebih sabar. Isi pembicaraan di grup umumnya ajakan untuk bangun. Salat tahajud. Banyak banget. Seolah mereka tahu saya perlu dibangunkan. Seolah mereka juga tahu untuk salat malam harus digiring lewat HP.

Sebentar kemudian mulai membanjir ajakan salat subuh. Isinya sama. Hanya copy paste. Ada yang pakai ayat. Pakai gambar. Pakai meme. Pakai kaligrafi. Dari satu grup ke grup yang lain nadanya sama. Isinya sama. Memenya sama.

Saya pernah posting usulan. Di satu grup: bagaimana kalau yang mengajak salat subuh itu satu orang saja. Yakni salah satu saja dari anggota grup yang paling rajin. Atau digilir.

Pun kalau usul itu dipenuhi saya masih akan menerima lebih 5 ajakan salat subuh yang sama. Sehingga kalau usul itu ditolak, bayangkan, berapa banyak saya menerima ajakan yang sama, dengan bunyi yang sama, meme yang sama, desain yang sama.

Sambutan atas usul itu terbelah. Ada yang setuju, ada yang emosional religius. Saya tidak menanggapi. Sak karepmu.

Itu tidak hanya di Islam. Juga yang Kristen. Sudah tahu bahwa grup yang satu ini didirikan untuk membahas satu bidang tertentu masih saja sering ada postingan ayat-ayat Alkitab.

Saya pernah posting sekali. Hanya itu. Usulan saya: agar soal politik dan agama jangan diposting di situ. Anggota grup di situ sangat beragam aliran agama, politik, dan sukunya. Lebih baik tidak posting di luar misi. Tapi, para juru dakwah memang marketer yang militan. Mereka tetap saja posting isi Al Kitab.

Ya sudah.

Simak berita selengkapnya ...