Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat melakukan peninjauan di Lapangan Kodam V Brawijaya. Foto: DEVI FITRI AFRIYANTI/BANGSAONLINE
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, terus memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk kesiapsiagaan serta mitigasi bencana secara terstruktur, dalam rangka menghadapi cuaca ekstrem. Bersama Forkopimda Jatim, ia meminta seluruh elemen strategis khususnya pemerintah kabupaten/kota dalam kondisi siap siaga.
Terkait kesiapsiagaan itu, gubernur menegaskan lima hal utama yang harus disiapkan, yakni rencana kontigensi, personel dan peralatan penanggulangan bencana, dan simulasi, gladi serta latihan-latihan secara terpadu. Khofifah juga berpesan agar pemerintah kabupaten/kota memperkuat koordinasi antarlembaga dan monitoring perkembangan cuaca secara intensif.
BACA JUGA:
- Khofifah Pantau Stok Bahan Pokok di Pasar Bojonegoro, Sejumlah Komoditas Terpantau Naik
- Tinjau Pasar Banjarejo, Gubernur Khofifah Pastikan Harga Stabil Jelang Idul Adha 2026
- Pastikan Stok Hewan Kurban Cukup, Gubernur Khofifah Tinjau Koperasi Ternak di Lamongan
- Program Bongkar Ratoon Tebu Dimulai di Desa Pinggirsari
“Pemantauan kondisi alam dan aktivitas terhadap potensi bencana pada daerah-daerah yang memiliki resiko tinggi mohon dilakukan secara terus-menerus. Termasuk semua desa tangguh bencana juga harus siap siaga," ujarnya saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Alam di Lapangan Kodam V Brawijaya, Kamis (20/10/2022).
Apel tersebut juga dihadiri Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Nurchahyanto; Kapolda Jatim, Irjen Pol Toni Harmanto; Pangkormada II, Laksda TNI Hutabarat; jajaran PJU Polda Jatim dan PJU Kodam V Brawijaya, serta jajaran BPBD Jatim.
Khofifah menjelaskan, rencana kontigensi perlu dipersiapkan kepala daerah sesuai dengan peta rawan bencana yang diterbitkan oleh BMKG. Sehingga kerugian yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

"Kedua, saya harap masing-masing kepala daerah bersama Forkopimda mengecek kesiapan personel dan peralatan penanggulangan bencana alam. Pastikan semua dalam kondisi siaga dan dapat digunakan dengan baik," tuturnya.
Gubernur juga mendorong dilaksanakannya simulasi, gladi dan latihan-latihan secara terpadu sehingga masing-masing sektor mengerti apa yang akan dilakukan pada saat terjadi bencana alam.
"Keempat, mohon diperkuat koordinasi antar lembaga dalam satu klaster penanganan darurat agar penanggulangan bencana semakin profesional. Terakhir, monitoring dan pemantauan perkembangan cuaca di wilayah masing-masing harus dilakukan secara terus-menerus," ucapnya.
Lima arahan kesiapan itu juga harus diikuti dengan update data dan situasi dari BMKG. Khofifah mengatakan,Provinsi Jawa Timur memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang berpotensi terjadinya bencana. Baik yang disebabkan faktor alam dan non alam maupun faktor kesalahan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Pada 17 Oktober lalu, lanjut Khofifah, BMKG telah mengumumkan potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer di wilayah Jatim, menunjukkan pola konvergensi serta perlambatan Kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




