Saya satu pesawat dengan Bayu Selasa sore kemarin. Lagi sama-sama kesel: pesawat jurusan Juanda-Halim ini delay dua jam. Kami sudah di dalam pesawat. Tapi tidak kunjung ada tanda berangkat.
Akhirnya kami tahu kenapa. "Cuaca di Halim lagi buruk. Jarak pandang terbatas. Kami diminta jangan terbang dulu," ujar pengumuman dari kapten pilot.
Lega. Hanya perlu menunggu cuaca membaik. Saya pun pindah ke kursi kosong di sebelah Bayu. Bisa buang waktu sambil ngobrol. Sekalian saya bisa menulis tentang anak muda hebat ini. Kebetulan saya dan ia satu ideologi: pro-otonomi dan pro desentralisasi.
Bayu ternyata tipe anak yang teguh: film buatannya harus pakai bahasa Jawa. Krunya pun harus setidaknya 50 persen orang lokal. Pemain filmnya lebih gila lagi: harus 90 persen orang setempat.










