“Memlilih Rais Am lewat para Rais Wilayah dan Cabang itu bagian dari kecintaan dan partisipasi wilayah dan cabang dalam Muktamar. Kalau hanya diwakili 9 orang gimana. Bisa-bisa mereka tak hadir dalam Muktamar kalau merasa sudah diwakili dalam memilih pemimpinnya,” tegasnya sembari mengatakan bahwa istilah head to head atau kiai diadu dengan kiai yang dijadikan alasan AHWA sangat tidak tepat karena sejak dulu pemilihan langsung sudah diberlakukan NU dan tak ada pernah ada masalah.
”Istilah itu diciptakan PBNU untuk mendukung AHWA aja,” katanya..
Ia menegaskan bahwa pemilihan Rais Am dan Ketua Umum PBNU seperti yang diatur dalam AD/ART selama ini sebenarnya sudah mencerminkan AHWA. Ia mencontohkan representasi umat Islam di Gorontalo.
”Jumlah umat Islam Gorontalo 1.100.000 orang. Wajar kan kalau dalam Muktamar NU nanti diwakili Rais dan Ketua Wilayah dan Cabang,” katanya sembari menegaskan bahwa di Gorontalo ada 6 PCNU. Berarti 1.100.000 umat Islam itu diwakili 7 wakil pemilih, yaitu 1 Rais PWNU dan 6 PCNU.










