TAFSIR
Pada ayat sebelumnya dikatakan bahwa Adam itu durhaka (‘asha) dan melanggar (ghawa). Lalu pada ayat ini dijelaskan perihal hukuman yang diterapkan kepadanya, yakni dideportasi dari surga, turun ke bumi.
Dari kajian linguistik, ada keindahan pada terma yang digunakan Tuhan, sekaligus rahasia makna yang cukup dalam. Pernyataan Tuhan saat memvonis Adam menggunakan kalimah “fi’il”, yakni “asha” dan “ghawa”, tidak menggunakan bentuk isim, isim “fa’il”, yakni : “Ashi”dan “Ghawi”. Bedanya apa..?
Kalau pakai fi’il, maka menunjukkan perbuatan, di mana perbuatan tersebut bisa dilakukan cuma sekali atau lebih. Juga bisa dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja. Sedangkan bentuk isim menunjukkan makna profesi atau sudah kebiasaannya. Sudah merupakan sifat yang melekat pada diri sang pelaku.










