Kiai Hasyim juga meminta pengurus wilayah atau di bawahnya tidak khawatirkan akan terjadi pembekuan maupun reshuffle pengurus wilayah, karena saat ini PBNU-nya sendiri vakum.
"Saya sendiri tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai Rais Am dari forum yang diikuti 29 wilayah yang sebenarnya memenuhi kuorum di Ponpes Tebuireng. Sebab, jika saya terima pencalonan itu, maka NU akan pecah. Begitu juga ketika saya menerima pencalonan dari forum yang digelar di alun-alun karena statusnya cacat hukum. Apakah bisa diakal dua forum mengaku semua kuorum, ini bagaimana," kata pengasuh Ponpes Al-Hikam ini.
Meski ada 29 PWNU yang keluar dari Muktamar di alun-alun Jombang dan bergabung ke kubu KH Salahuddin Wahid di Tebuireng, KH Hasyim Muzadi membantah bahwa NU pecah. Alasannya, karena tidak ada muktamar tandingan atau NU tandingan. (Baca juga: Anggap Penuh Kecurangan, Ratusan Peserta Muktamar NU Pindah ke Tebuireng)
Yang terjadi, kata Hasyim Muzadi, adalah gerakan pemurnian NU dari penyusupan ideologi atau aliran pemikiran yang merusak keimanan dan perilaku avonturir para politisi.










