KH Muhammad Yusuf Hasyim (membelakangi truck) sedang menyalami KH Moenasir Ali. Tampak para santri Tebuireng Jombang di atas truck. Para santri Pesantren Tebuireng terlibat aktif sebagai Laskar Hizbullah untuk perang kemerdekaan dan mempetanahkan NKRI. Foto: Keluarga KH M Yusuf Hasyim/Pesantren Tebuireng.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Para tokoh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sangat terkesan dengan perjuangan heroik KH Muhammad Yusuf Hasyim. Bahkan mereka merasa punya hutang budi terhadap Pak Ud – panggilan akrab Kiai Muhammad Yusuf Hasyim. Kenapa? Silakan simak tulisan serial ke-4 M. Mas’ud Adnan, wartawan HARIAN BANGSA, yang meliput acara seminar pengusulan KH M Yusuf Hasyim sebagai pahlawan nasional di PP Amanatul Ummah Surabaya.
HMI adalah organisasi mahasiswa yang sangat produktif melahirkan tokoh nasional berbasis Islam dari berbagai profesi. Alumni HMI banyak sekali yang menjadi pejabat tinggi negara, intelektual, cendekiawan, pengusaha, tokoh LSM, politisi, pimpinan partai politik, akademisi, tokoh pers atau wartawan, hingga tokoh agama. Sampai sekarang.
BACA JUGA:
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
- Jelang Armuzna, Ini Taushiah Penting Amirulhaj Prof Kiai Asep kepada Jemaah Haji dan Petugas Haji
- UAC Bakal Buka Program Nuklir, Program Hukum Keluarga Islam Jadi Ilmu Layak Jual, Jika...
- Kiai Asep Cukup Persiapan Dua Bulan, Jika PP Amanatul Ummah Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Meski demikian, HMI hampir saja hilang dari pusaran sejarah Indonesia. Terutama ketika para tokoh PKI memprovokasi Presiden Soekarno agar membubarkan HMI. Bahkan PKI sukses memprovokasi Soekarno untuk membubarkan Masyumi. Bung Karrno membubarkan Masyumi pada tahun 1960.
Tapi ternyata PKI belum puas. PKI juga mau mengganyang HMI.
“Saat itu PKI memprovakasi supaya Bung Karno membubarkan HMI,” kata Dr M. Alfan Alfian, tokoh HMI, saat menjadi pembicara dalam seminar pengusulan KH Muhammad Yusuf Hasyim sebagai pahlawan nasional di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Rabu (28/5/2025) malam.

Dr. M. Alfan Alfian. Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
Tapi, kata Alfan Alfian, kemudian muncul solidaritas umat Islam.
“Yang menarik, pada saat itu muncul spanduk yang yang sangat fenomenal,” kata Alfan Alfian yang kini menjabat anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Jakarta.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




