PWNU-PCNU Kepulauan Riau Berharap Kiai Asep Jadi Benteng Penolakan Risywah di Muktamar NU

BATAM, BANGSAONLINE.com-Isu risywah atau suap yang menghebohkan menjelang Muktamar ke-35 NU membuat para kiai – terutama para kiai, termasuk rais syuriah PCNU dan PWNU - berpikir keras untuk mencari solusi bagaimana caranya perhelatan akbar dan sakral lima tahun sekali itu bebas dari praktik suap yang jelas diharamkan oleh syariat Islam.

Setidaknya itulah gambaran yang mengemuka dalam pertemuan Prof Kiai Asep Saifuddin Chalim dengan Rais Syuriah PWNU dan PCNU-PCNU Kepulauan Riau di Batam, Sabtu (15/8/2026) malam.

Dalam acara itu hadir Rais Syuriah PWNU Kepulauan Riau KH Usman Ahmad dan beberapa pengurus PWNU lainnya, diantaranya Katib Syuriah PWNU Kepri Dr. H. Bambang Maryono.

Dalam acara silaturahhim itu Kiai Asep sempat mengungkap sejumlah persoalan krusial yang menimpa PBNU. Terutama menjelang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang pada 27 hingga 31 Agustus 2026.

Diantaranya soal risywah atau suap yang gencar dilakukan oleh hampir semua kandidat ketua umum PBNU. Ironisnya, suap itu tidak hanya dilakukan untuk memenangkan calon ketua umum tapi juga untuk merekrut kiai-kiai calon anggota Ahlul Halli Wal-Aqdi (Ahwa).

“Mereka bilang ini bukan risywah tapi uang transport,” ujar Prof Kiai Asep Saifudin Chalim, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur di depan para PCNU dan PWNU Kepulauan Riau.

Tapi, tegas Kiai Asep, jumlahnya tak wajar. Mulai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per PCNU. Itu pun baru uang muka atau DP (down payment).

Lalu tim itu menyodorkan sembilan nama kiai calon Ahwa sekaligus minta surat rekomendasi yang harus ditadatangani dan distempel saat itu juga.

“Kalau gak ada stempel langsung dibuatkan stempel saat itu juga,” ujarnya.

Kiai Asep juga mengungkap tentang masuknya tokoh Yahudi asal Amerika Serikat Holland Taylor ke dalam kepengurusan PBNU pada era KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU.

Holland Taylor adalah orang dekat Gus Yahya yang kemudian diangkat secara resmi sebagai penasehat Khusus Ketua Umum PBNU Gus Yahya dalam urusan internasional. Namun ketika sepak terjangnya terbongkar – terutama mendatangkan Peter Berkowitz, akademisi asal Amerika Serikat yang pro-Zionis Israel sebagai mentor kader-kader NU – Kiai Miftachul Akhyar atas nama Rais ‘Aam memecatnya.

“Tapi yang mengangkat Holland Taylor sebagai penasehat Ketua Umum PBNU kan suratnya ditanda tangani Gus Yahya dan Kiai Miftach,” ujar Kiai Asep. Artinya, Kiai Miftachul Akhyar juga terlibat dalam kasus pengangkatan Holland Taylor sebagai penasehat khusus Gus Yahya.

Rais Syuriah PWNU Kepri KH Usman Ahmad mengaku mendapat penguatan visi dan sikap saat mendengar pemaparan Kiai Asep Saifuddin Chalim tentang pentingnya bersikap tegas terhadap risywah atau sesuatu yang haram lainnya.

“Maturnuwun sanget apa yang didawuhkan Kiai Asep,” ujar Kiai Usman Ahmad yang juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dalam acara silaturahim dengan PWNU dan PCNU Kepulauan Riau, Sabtu (15/8/2026) malam. Tampak Katib Syuriah PWNU Kepri Dr H. Bambang Maryono dan para pengurus PWNU lainnya. 

Kiai Usman Ahmad berharap pemaparan Kiai Asep itu memperkuat dan mempertegas sikap semua pengurus NU untuk menolak praktik risywah. Ia juga minta kita tidak memutarkan balikkan fakta, yang haram jadi halal dengan alasan untuk transport.

“Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah,” ujar Kiai Usman Ahmad yang juga Ketua MUI Kota Batam.

“Jadi kita juga tidak memutarbalikkan amar ma’ruf nahi munkar,” tambah Kiai Usman Ahmad.

Ia mengaku sepakat dengan Kiai Asep yang merupakan putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU.

Dalam acara itu Kiai Asep juga banyak mendapat pertanyaan. Diantaranya dari Ketua PCNU Bintan KH. Abdul Majid Jufri. Kiai muda itu mengaku membaca berita Kiai Asep tidak bersedia jadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU.

“Apa benar,” tanyanya.

Kiai Asep menjelaskan, saat itu dirinya menawarkan pondok pesantren Amanatul Ummah sebagai pesantren alternatif untuk ditempati Muktamar ke-35 NU. Karena fasilitasnya sangat siap.

“Saya mengatakan Amanatul Ummah siap ditempati Muktamar NU. Saya siap menanggung akomodasi dan konsumsi para kiai dan semua peserta muktamar. Saya tak perlu dimasukkan sebagai pengurus PBNU, tak usah dijadikan Rais ‘Aam, wakil Rais ‘Aam atau pengurus PBNU. Juga tak perlu bikin proposal dan tidak boleh ada risywah. Tapi disurvei saja tidak oleh panitia,” kata Kiai Asep.

“Mungkin karena tak boleh buat proposal itu, lalu tidak diterima,” tambah Kiai Asep yang disambut tawa para kiai.

Kiai Lukman, salah seorang pengurus PWNU Kepri mengusulkan para kiai melakukan seruan moral untuk menghadang atau menolak risywah dalam Muktamar ke-35 NU.

“Seperti kiai-kiai saat berkumpul di Ploso,” ujarnya.

Kiai Asep mengaku setuju. “Ini jadi inspirasi bagi saya,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Kiai Asep memang dikenal sebagai sosok kiai yang lantang menolak risywah secara terbuka. Nama Kiai Asep disebut oleh banyak PCNU dan PWNU sebagai salah satu calon anggota Ahwa. Tapi justeru karena lantang menolak risywah ia tak disukai oleh tim-tim kandidat berbasis risywah.

Kiai Asep datang ke Batam untuk menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Kepulauan Riau. Usai pelantikan JKSN, Kiai Asep langsung menuju Bandara Hang Nadim Batam.

Tapi Ketua PCNU Batam Dr Ahmad Zainuddin minta dengan sangat agar Kiai Asep berkenan mampir ke pesantren yang diasuhnya, yaitu Pesantren Baitul Quran, Kelurahan Tanjung Buntung, Bengkong, Kota Batam. Di pesantren inilah ia dan istrinya mengelola Madrasah Ibtidaiyah Tahfidz Az-Zahra, Sekolah Dasar Berbasis Islam Kota Batam.

“Sebentar saja untuk mendoakan pondok saya,” ujar Ahmad Zainuddin yang merupakan wali santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

“Anak saya alumni Amanatul Ummah sekarang kuliah di UI semester tujuh,” ujarnya.

Dipandu oleh Ahmad Saifuddin, alumnus Universitas KH Abdul Chalim yang kini menjadi pembimbing jemaah haji di Batam, Kiai Asep dan rombongan menuju ke Pesantren Baitul Quran yang letaknya tak jauh dari lokasi acara pelantikan JKSN.

Kiai Asep sempat memberikan taushiah di depan para santri tahfidz Az-Zahra sekaligus memimpin doa untuk pengembangan pesantren tersebut.

Rais Syuriah PWNU Kepri Kiai Usman Ahmad juga memohon dengan sangat agar Kiai Asep juga mampir ke pesantennya, yaitu Pondok Pesantren Darul Falah, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kebetulan lokasinya dekat Bandara Hang Nadim.

Kiai Asep dan rombongan pun mampir ke pesantren yang diasuh Kiai Usman Ahmad. “Mari kita berdoa. Tapi mohon maaf tak bisa lama,” ujar Kiai Asep yang kemudian memimpin doa.

Kiai Usman Ahmad tampak sangat haru Kiai Asep berkenan mampir ke pesantrennya, meski hanya beberapa menit. Bahkan Kiai Usman Ahmad tampak terisak saat mengamini doa yang dipimpin Kiai Asep.

“Terimakasih Kiai,” ujar Kiai Usman Ahmad kepada Kiai Asep.

Rombongan Kiai Asep langsung menuju Bandara Internasional Hang Nadhim, setelah pamitan kepada Kiai Usman Ahmd dan para pengurus pondok yang lain.