DARI KIRI: Kadir, Memet, Tessy dan Kirun saat diterima Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, di kediamannya di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (1/1/2026) malam. Foto: bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Apa jadinya jika empat pelawak kondang sowan seorang kiai. Serius atau tetap cengengesan? Dasar pelawak. Mereka tetap slenge’an. Hanya saja mereka tampil sopan. Bahkan mereka mengenakan songkok atau kopyah.
Itulah yang terjadi ketika empat pelawak senior sowan ke kediaman Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.
Empat pelawak itu adalah Tessy, Kadir, Kirun dan Memet.
“Mereka sudah lama telepon, mau ketemu saya,” tutur Kiai Asep.
Kiai Asep menerima mereka saat tahun baru. Tepatnya Senin 1 Januari 2026 malam. Kebetulan Kiai Asep menggelar acara shalat malam dan doa bersama di kediamannya di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya.
Acara shalat malam itu dihadiri para kiai, guru besar dan tokoh masyarakat. Antara lain, Prof Dr KH Imam Ghazali Said, guru besar UIN Sunan Ampel yang juga pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya.
Juga hadir Prof Dr Usep Abdul Matin, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Ketua TP2GP, Prof Dr Zainuddin Maliki, penasehat Menteri Desa dan Daerah Tertinggal dan Budhi Prijo Soeprajitno, mantan ketua Tim Pemenangan Khofifah-Emil.
Selain mereka juga hadir Dr KH Ahmad Sujak, Ketua DMI Jawa Timur, Dr Achmad Rubaie dari Yayasan Unitomo Surabaya, H Sholeh anggota DPRD Jatim, Muhammad Fachrudin Wakil Ketua PAN Jatim dan lainnya.
Di depan para kiai dan tokoh masyarakat tersebut para pelawak itu mengungkap kisah getir hidup mereka sejak kecil. Dasar pelawak, meski yang diungkap adalah pahitnya kehidupan, tapi mereka menyampaikan dengan cara slenge’an. Karuan saja para kiai yang mendengar kisah hidup mereka haru tapi sambil tertawa.
Tessy, misalnya, mengungkap perjalanan hidupnya yang pernah terjebak kasus narkoba. Ia bahkan sempat mau bunuh diri dengan cara minum porstex (cairan pembersih lantai toilet yang berkarat atau kerak yang membandel)
“Ayo ceritakan bagaimana ceritanya minum porstex,” desak Kirun kepada Tessy.
“Iyo ta aku tak ngomong. Koen menengo ojok ngomong ae,” balas Tessy yang disambut tawa para kiai.
“Pokoknya jangan sampai kena narkoba,” ujar pelawak legendaris bernama asli Kabul Basuki yang sekarang berusia 85 tahun itu.
Ia benar-benar jera karena kasus narkoba itu telah memporakporandakan hidupnya.
“Saya menjadi ATM,” ungkap Tessy menyebut oknum aparat.
Tessy memang ditangkap polisi karena narkoba. “Enak Tessy ini. Ke mana-mana dikawal polis,” ujar Kirun. Lagi-lagi para kiai tertawa.
Tessy mengaku bangkrut karena narkoba.
“Akhirnya rumah saya jual, mobil juga saya jual,” ujar Tessy pilu.
“Saat itu hidup saya liar, tak ada yang mengontrol. Saya di Jakarta sendirian. Anak saya di Surabaya, istri juga di Surabaya,” tutur Tessy yang selalu tampil di panggung mengenakan cincin besar-besar.
Sempat ada yang menyeletuk menanyakan mana cincinnya kok gak dipakai.
“Kan tidak sedang mannggung,” jawab Tessy.
Komedian Kadir lain lagi.
“Saya ini pernah di Tebuireng 1 tahun, di Lirboyo 1 tahun, dan di Gontor 1 tahun,” ungkap Kadir, pelawak popular yang selalu pakai aksen Madura.
Mondok? “Bukan, saya jual sarung,” ujar komedian yang pada tahun 90-an wajahnya sering nongol di TV. Para kiai langsung tertawa.
“Karena itu saya selalu berpindah-pindah. Gak laku di Tebuireng, saya pindah ke Lirboyo. Gak laku di Lirboyo saya pindah ke Gontor,” ujar pelawak asal Kediri bernama asli Haji Mubarok yang kini berusia 74 tahun itu sembari tertawa. (bersambung)







