Penuhi Kualifikasi Keulamaan dan Keumatan, JKSN DI Yogyakarta Dukung Kiai Asep Calon Rais 'Aam PBNU

Penuhi Kualifikasi Keulamaan dan Keumatan, JKSN DI Yogyakarta Dukung Kiai Asep  Calon Rais Prof Dr KA Asep Saifuddin Chalim, MA. Foto: MMA/bangsaonline

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com – Pengurus Wilayah (PW) Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendukung Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, sebagai calon Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU mendatang.

Pernyataan itu disampaikan Ketua PW JKSN DIY M. Rofiq dan Penasehat JKSN DIY Nur Kholik Ridwan kepada BANGSAONLINE, Jumat (23/1/2026).

Menurut dua tokoh muda NU itu, dari beberapa calon Rais ‘Aam yang beredar, Kiai Asep merupakan calon Rais ‘Aam paling lengkap dari segi kualifikasi keulamaan dan keumatan.

“Pertama, Aliman. Kedua, Faqihan bi ulumiddin mashalihil ummah. Ketiga, Zahidan. Kempat, Muru'atan. Kelima, Futuwwah. Keenam, Muharrikan. Ketujuh, Amilan ala Sabili Nahdlatil Ulama,” ujar Nur Kholik Ridwan yang dikenal sebagai penulis buku, termasuk buku tentang Wahhabi.

Sementara M. Rofiq menilai Kiai Asep segi pertimbangan keumatan.

”Beliau punya rekam rekam jejak historis dan keterikatan ke-NU-an sangat kuat,” ujarnya.

Menuru dia, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. adalah putra dari KH. Abdul Chalim Leuwimunding, salah satu ulama pendiri NU yang berperan strategis bersama tokoh-tokoh awal NU dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

“Keberlanjutan keterikatan historis ini memberikan dimensi legitimasi yang kuat bagi kepemimpinan beliau dalam jam’iyyah NU,” tambahnya.

Nur Kholik Ridwan juga menilai kepemimpinan sisioner dalam pendidikan Islam.

Menurut Nur Kholik, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Beliau dikenal memiliki visi pendidikan masa depan yang kuat: menghasilkan santri yang unggul, berakhlak mulia, berwawasan global, serta mampu berkontribusi dalam berbagai ranah kehidupan umat dan bangsa.

“Visi ini bukan sekadar slogan, tetapi direalisasikan dalam kurikulum dan program strategis lembaga yang berorientasi pada kualitas lulusan,” ujarnya.

Selain itu, tegas Nur Kholik, Kiai Asep juga Ketua Umum JKSN yang secara konsisten memperkuat jaringan kiai dan santri di seluruh Nusantara.

“Beliau juga membangun sinergi strategis antara lembaga pendidikan pesantren dengan kebutuhan zaman. Kepemimpinannya di JKSN menunjukkan kapasitas organisatoris yang matang, mampu menggerakkan dukungan basis akar rumput sekaligus menjembatani gagasan strategis pada level nasional,” ujarnya.

Nur Kholik Ridwan juga mengatakan bahwa kontribusi Kiai Asep dalam pengembangan organisasi guru NU sangat signifikan.

Kiai Asep, tutur Nur Kholik, menjabat sebagai Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU), organisasi guru yang berperan penting dalam penguatan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren dan sekolah-sekolah NU.

“Keberhasilan beliau dalam revitalisasi organisasi banom ini menegaskan kapasitas beliau dalam membangun jaringan dan daya organisasi NU secara lebih luas,” jelasnya.

M. Rofiq juga mengungkap tentang pengakuan nasional atas kepeloporan dan dedikasi

Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A.

Menurut dia, Kiai Asep telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Bintang Mahaputera Nararya — sebagai bentuk apresiasi negara atas kontribusinya dalam pendidikan dan kesejahteraan umat — serta penghargaan sebagai Tokoh Peduli Anak Bidang Pendidikan dan Kesehatan oleh KPAI.

“Ini menunjukkan bahwa keberpihakan beliau tidak hanya pada dunia pesantren semata, tetapi pada kemajuan bangsa secara umum,” ulas Rofik.

Dan yang paling penting lagi, tegas dia, kepemimpinan Kiai Asep visioner dan relevan dengan tantangan NU. Menurut dia, NU saat ini menghadapi tantangan besar: perubahan sosial yang cepat, tuntutan globalisasi nilai, serta kebutuhan memperkuat kembali marwah dan jaminan keilmuan NU dalam konteks kontemporer.

“Sosok beliau yang dikenal visioner — mampu menjembatani tradisi luhur NU dengan dinamika zaman — memberdayakan santri dan pendidik NU agar tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga relevan dalam konteks kemaslahatan umat dan bangsa,” tegasnya.

Menurut dia, visi tersebut sangat dibutuhkan NU untuk membenahi sekaligus mengembalikan marwah jaminan Nahdlatul Ulama sebagai institusi keagamaan yang nasional dan global.

Nur Kholik Ridwan juga mengungkap kemampuan Kiai Asep dalam membangun integritas dan moderasi.

“Melalui kepemimpinan yang mengintegrasikan nilai tradisi pesantren dengan pendekatan yang moderat dan inklusif, beliau telah menunjukkan leadership style yang mampu menjalin hubungan yang sehat antara berbagai elemen NU, membangun komunikasi yang kuat, serta memotivasi civitas pesantren,” tegasnya.

Menurut dia, alasan-alasan yang ia sampaikan itu sangat logis dan argumentatif terutama menjelang penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan datang. Menurut dia, NU berada pada satu titik krusial dalam perjalanan sejarahnya sebagai jam’iyyah keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga moderasi Islam, keutuhan umat, serta stabilitas kehidupan berbangsa.

“Di tengah arus globalisasi, digitalisasi dakwah, dan penetrasi ideologi transnasional, NU menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah agar tetap hidup, relevan, dan menjadi rujukan keilmuan yang menenteramkan,” ujarnya.

Pada saat yang sama, tegas dia, dinamika internal organisasi—mulai dari penguatan tata kelola kelembagaan, konsistensi khittah perjuangan, hingga kebutuhan merawat persatuan dan kepercayaan warga nahdliyin—menuntut kepemimpinan yang mampu meredam friksi, memperkuat konsensus ulama, dan mengembalikan marwah NU sebagai jaminan moral, keilmuan, dan kebangsaan bagi umat.

“Tantangan eksternal berupa tuntutan publik agar NU tetap menjadi penjaga moderasi, perekat pluralisme, serta penopang peradaban Islam yang ramah dan inklusif semakin menegaskan pentingnya figur pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berakar kuat pada tradisi keulamaan,” ujarnya.

”Atas dasar pertimbangan tersebut, JKSN Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan dukungan penuh kepada Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A.

sebagai calon Rois ‘Am Nahdlatul Ulama. Beliau dipandang memenuhi semua kualifikasi agar organisasi NU terus bergerak maju,” ujarnya.

”Kami percaya bahwa dengan kepemimpinan beliau yang kuat, berwawasan luas, dan berorientasi masa depan, jam’iyyah Nahdlatul Ulama akan semakin kuat, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman — sekaligus mempertahankan identitas dan marwah keulamaan NU sebagai rumah besar ulama dan umat,” tambahnya.