Ekonom dari Ubaya ini Sarankan Efisiensi Energi ASN dan Subsidi Tepat Sasaran

Ekonom dari Ubaya ini Sarankan Efisiensi Energi ASN dan Subsidi Tepat Sasaran Ilustrasi. Foto: Ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Penghematan konsumsi BBM (bahan bakar minyak) dinilai lebih efektif dilakukan melalui efisiensi anggaran operasional pemerintah yang dialihkan menjadi subsidi tepat sasaran. Langkah itu disebut mampu menjaga daya beli masyarakat dibandingkan menaikkan harga di pasar.

Ekonom Universitas Surabaya (Ubaya), Firman Rosjadi Djoemadi, menyatakan efisiensi energi di birokrasi dapat menciptakan ruang fiskal lebih luas.

"Pemerintah sebenarnya punya ruang fiskal yang lebih baik. Dana itu bisa digunakan untuk meningkatkan daya beli masyarakat," ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Ia menyarankan penerapan sistem kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk menekan konsumsi energi nasional.

"Work from anywhere oleh ASN itu bisa mengurangi biaya listrik, bisa biaya transport," tuturnya.

Selain itu, Firman menekankan pentingnya beralih ke gas alam cair (LNG) untuk mengurangi beban impor. Optimalisasi cadangan gas domestik disebut dapat menggantikan konsumsi elpiji dan minyak bumi.

"Kita punya cadangan domestik yang besar. Itu bisa segera digunakan untuk menggantikan LPG," ucapnya.

Ia juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur gas perkotaan sebagai strategi ketahanan energi jangka panjang.

"Langkah ketahanan energi yang paling realistis adalah percepatan penggunaan gas LNG," katanya.

Terkait sektor industri, Firman menilai efisiensi energi tidak sebaiknya menyentuh proses produksi utama agar output ekonomi tidak terganggu. Penghematan hanya bisa dilakukan pada fasilitas pendukung, seperti listrik di area perkantoran pabrik.

"Kalau proses produksi saya kira malah tidak bagus kalau dia harus dikurangi energinya," imbuhnya.

Sebagai strategi tambahan, ia mendorong pemberian insentif masif untuk konversi kendaraan listrik.

"Skema insentif beralih ke kendaraan listrik itu yang pemerintah harus berani dan dipermudah," ujarnya.

Menurut dia, kebijakan insentif lebih tepat di tengah kecemasan masyarakat terhadap krisis energi global.

"Untuk saat ini saya kira lebih baik insentif karena psikologis masyarakat sedang cemas," pungkasnya. (dev/mar)