Jarang Orang Kaya Dermawan, Ketua PWNU DKI Jakarta: Jadilah Orang seperti Kiai Asep

JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nadlatul Ulama (PWNU) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta KH Syamsul Ma’arif menilai bahwa studi tentang tokoh masih belum banyak di kalangan kader NU. Akibatnya banyak tokoh besar NU justru tak dikenal atau belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Termasuk oleh warga NU sendiri. Ia mencontohkan KH Abdul Chalim, ayahanda Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.

“Kiai Abdul Chalim pada usia 28 tahun sudah menjabat Wakil Katib Syuriah PBNU pada jaman Hadratussyaikh. Itu pada jaman Hadratussyaikh,” ujar KH Syamsul Ma’arif dalam acara Halaqah dan Bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Kantor PWNU DKI Jakarta Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Ahad (17/5/2026).

Tapi, tegas Kiai Syamsul Maarif, sosok Kiai Abdul Chalim belum popular di kalangan NU. Sehingga kader NU banyak yang belum mengenal sosok dan sejarah Kiai Abdul Chalim.

“Padahal kalau kita ingin menjadi tokoh besar, kita harus mengenal tokoh besar. Kalau kita ingin menjadi miliarder, kita harus mengenal dan dekat dengan miliarder. Kalau kita ingin menjadi tokoh dermawan, maka harus dekat dengan tokoh yang dermawan” ujar alumnus Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur itu.

Karena itu, menurut dia, buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan yang ditulis M. Mas’ud Adnan ini sangat bermanfaat untuk dijadikan rujukan.

“Saya sendiri belum membaca seluruhnya tapi saya lihat sekilas buku ini sangat bagus. Saya baru baca sedikit,” ujar Kiai Syamsul Maarif sembari membolak-balik buku setebal 520 halaman itu.

Nyai Hj Alif Fadhilah (pakai baju dan hijab warna ungu) dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Kantor PWNU DKI Jakarta, Ahad (17/5/2026). Foto: bangsaonline.

Kiai Syamsul Maarif mengaku belum banyak mengenal Kiai Asep. Tapi ia mengaku sudah merasakan berkah dan manfaat Kiai Asep. Ia bercerita pernah kesulitan tiket pesawat karena waktunya mepet dalam sebuah acara di Jawa Timur. Ternyata oleh seseorang dikenalkan dengan Kiai Asep.

Tak perlu lama. Kiai Asep langsung menyelesaikan tiket secara gratis lewat orang-orangnya di bandara.

“Jadi saya langsung dapat tiket,” ujar Kiai Syamsul Maarif yang langsung disambut tawa para peserta yang duduk lesehan di lantai atas gedung PWNU DKI Jakarta.

“Saat itu saya belum jadi ketua PWNU,” tambahnya.

Ia juga mengakui keunggulan Pondok Pesantren Amanatul Ummah. “Dua keponakan saya mondok di Amanatul Ummah. Sekarang dua-duanya jadi dokter semua. Jadi saya sudah merasakan,” ujar Kiai Syamsul Maarif.

Menurut dia, di NU jarang sekali orang dermawan seperti Kiai Asep.

Karena itu Kiai Syamsul Maarif minta kader NU meneladani Kiai Asep. Menurut dia, Kiai Asep tokoh lengkap. Ia menyebut Kiai Asep secara intelektual bagus. Selain itu juga kaya dan dermawan.

“Dermawan ini yang sulit,” ujar Kiai Syamsul Maarif.

Menurut dia, Kiai Asep juga sukses mendidik puluhan ribuan santrinya menjadi kader bangsa yang cerdas.

“Jadilah seperti Kiai Asep,” ujarnya.

Lalu bagaimana tentang dukungan terhadap calon Rais ‘Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 NU mendatang. Kiai Syamsul Maarif setuju Kiai Asep masuk Ahwa. Begitu juga tiga Ketua PCNU yang hadir dalam acara itu. Mereka sepakat Kiai Asep masuk Ahwa.

Dalam acara itu tampak hadir Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Utara KH. Agus Muslim, S.Ag, M.Pd dan Sekretaris Abdul Aziz Yusuf, Ketua PCNU Jakarta Barat KH Agus Salim, SE dan Sekretaris Abdul Hakim serta Ketua PCNU Kepulauan Seribu Fakhrullah.

Juga hadir Sekjen PP Pergunu Dr Aris Adi Laksono dan para tokoh lain.

Kiai Asep membenarkan bahwa abahnya menjabat Katib Tsani dalam PBNU periode pertama. "Rais Akbarnya KH Muhamamd Hasyim Asy'ari, Wakilnya Kiai Ahmad Dahlan Ahyad. Katib Awalnya Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Katib Tsaninya abah saya, KH Abdul Chalim," ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu.

Kiai Asep juga menegaskan tentang tujuan NU didirikan. Menurut dia, ada dua tujuan NU didirikan. Pertama, untuk mengawal dan mengembangkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Kedua, untuk hurriyah yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia.

Menurut Kiai Asep, dengan paham Aswaja yang dikembangkan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, maka persatuan bangsa Indonesia bisa diraih. Karena mudara alias moderat dan inklusif.

"Karena itu Kiai Wahab dan abah yang keluar baik-baik dari Syarikat Islam karena Tjokro Aminoto berpaham khilafah," ujarnya.

Kiai Asep yang hadir bersama istrinya, Nyai Hj Alif Fadhilah, juga banyak bercerita tentang masa lalunya.

"Saya ini suami paling setia," ujar Kiai Asep sembari tersenyum.

Para peserta halaqah dan bedah buku langsung tertawa dan mengarahkan pandangan ke Nyai Alif Fadhilah yang duduk di deretan depan ibu-ibu. Termasuk Kiai Syamsul Maarif.

Kiai Asep juga bercerita tentang kondisi ekonominya yang miskin saat masih remaja.Ia bahkan sempat mau jual rokok asongan di terminal Joyoboyo Wonokromo Surabaya.Tapi karena tak kuat malu akhirnya ia pilih menjadi kuli bangunan.

Ia juga mengakui bahwa tiga gadis yang dilamar sempat menerima lamarannya. Tapi para orang tua mereka kemudian mengembalikan lamarannya karena dianggap sebagai pemuda tak punya masa depan.

Ia akhirnya berdoa kepada Allah SWT agar dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenal asal-usul nasabnya, orang tuanya tak punya kedudukan, tidak kaya, dan tidak berpendidikan tinggi.

Doa Kiai Asep maqbul. Ia dipertemukan dengan anak kelas 3 SMP.

"Saya dipertemukan jam 2, jam 4 dilamar, dan jam 8 malam dinikahkan," ujar Kiai Asep yang lagi-lagi disambut tawa. Bu Nyai Alif Fadhilah juga ikut tertawa.

"Tapi kemudian saya sekolahkan di Madrasah Aliyah di pondok pesantren. Tapi Bu Nyainya (pengasuh pondok) tidak tahu kalau dia istri saya," ujar Kiai Asep yang juga Ketua Umum Pimpin Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

Ternyata Nyai Alif Fadhilah penuh berkah. Menurut Kiai Asep, istrinya yang kini telah menganugrahkan 9 putra-putri sangat pandai memenej keuangan. Bahkan juga punya insting bisnis tinggi.

Mengutip Hadits, Kiai Asep menegaskan bahwa seorang istri yang baik adalah istri yang murah pembiayaanya. Sejak masih awal menikah, tutur Kiai Asep, istrinya tak pernah menuntut belanja tinggi. Sebaliknya, dikasih belanja sedikit justru uang belanjanya berkembang.

"Saya kasih belanja Rp1 juta tapi tiap bulan istri saya menghasilkan Rp 5 juta," ujarnya.

Sementara M. Mas'ud Adnan mengungkapkan bahwa penghasilan Bu Nyai Alif Fadhilah sekarang mencapai Rp 2 miliar tiap bulan. "Sedangkan penghasilan Kiai Asep sendiri mencapai Rp 4 miliar sampai Rp 6 miliar," ujar CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE itu.

Dalam buku itu Mas'ud Adnan menulis ada 9 kesuksesan dan kehebatan Kiai Asep. Diantaranya sukses mendidik putra-purinya terutama secara akademik.

"Ada yang lulusan Al Azhar Mesir, ada yang lulusan Maroko, dan ada yang jadi dokter, dan ada juga yang lulusan University of Buckingham Inggris. Yaitu Gus Azmi yang sekarang ikut dalam acara ini," ujar Mas'ud Adnan sembari mengatakan bahwa putra pertama Kiai Asep yaitu Gus Bara jadi Bupati Mojokerto, sedangkan Gus Habib anggota DPR RI.

KH Abdul Mujib Qulyubi menyoroti peran doa Kiai Asep. Menurut dia, Kiai Asep dan istrinya sama-sama ahli doa. "Mana ini yang mustajab dan dikabulkan. Jawabannya dua-duanya," ujar mantan Wakil Katib Syuriah PBNU itu.

Menurut dia, Kiai Asep telah mendapat anegrah rezeki luar biasa. Mengutip pendapat ahli tafsir kontemporer Syaikh Mutawalli Sya'rawi, Kiai Mujib mengatakan bahwa rezeki yang tingkatannya terendah adalah rezeki berupa harta benda.

Rezeki paling tinggi adalah rizki kesehatan jasmani dan ruhani. 

Kemudian rizeki paling utama adalah keluarga dan anak shalih dan shalihah. Yaitu kita dikaruniai istri dan putra-putri yang shalih dan shalihah. Termasuk anak yang ccerdas dan berpendidikan tinggi.

Rezeki yang paling sempurna adalah ridha Allah SWT.

"Ketika seseorang merasa ikhlas dan ridha dengan segala ketetapan Allah, serta Allah juga meridhai kehidupannya, maka itulah nikmat yang paling sempurna," ujarnya.

"Semua rezeki itu yang sekarang dimiliki Kiai Asep," ujar Kiai Mujib Qulyubi.

Moderator acara sempat minta Gus Azmi, putra Kiai Asep, untuk testimoni tentang Kiai Asep dan ibundanya, Nya Alif Fadhilah dalam mendidik putra-putrinya.

"Abah memberikan kebebasan putra-putrinya untuk berekspresi dan mandiri," ujar Gus Azmi yang baru menamatkan studi farmasi di University of Buckingham dengan beasiswa.

Ketika di Inggris Gus Azmi mengaku bertemu dengan para pengurus PCI NU Inggris. Mereka, tutur Gus Azmi, mengaku kenal Kiai Asep.

"Saya ditanya apakah putra Kiai Asep. Saya jawab ya saya putranya," tuturnya.