Ilustrasi. Foto: Freepik
BANGSAONLINE.com - Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Momentum ini menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salah satu amalan utama di bulan Muharram adalah puasa sunnah, khususnya Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Buya Yahya dalam kajiannya menegaskan sabda Rasulullah SAW: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram.”
Hari Asyura diyakini sebagai hari agung, di mana puasa pada tanggal tersebut dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya. Dosa kecil yang dimaksud mencakup kekhilafan sehari-hari, seperti ucapan yang kurang baik atau pandangan yang tidak terjaga. Namun, Buya Yahya menekankan bahwa dosa besar tetap memerlukan taubat sungguh-sungguh.
Puasa Asyura sendiri telah dikenal sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadan. Dalam riwayat sahih, kaum Yahudi berpuasa pada hari itu sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun.
Rasulullah SAW kemudian menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mensyukuri peristiwa tersebut dan menganjurkan puasa Asyura. Untuk membedakan dengan tradisi Yahudi, Rasulullah SAW menganjurkan agar puasa Asyura disertai puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.
Karena itu, umat Islam disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, atau 10 dan 11 Muharram. Menjalankan Puasa Asyura beserta puasa pendampingnya memiliki keutamaan besar, menjadi bentuk ketaatan sekaligus sarana meningkatkan ketakwaan.
Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki akhlak selama bulan Muharram. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




