KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Para kiai sepuh yang berkumpul di Ndalem KH Nurul Huda Jazuli, tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026 secara tegas menolak manuver pihak yang akan mengubah Ahwa menjadi sistem zonasi dan rangkap jabatan Ketua Umum PBNU.
Para kiai kharismatik itu menilai bahwa manuver tersebut terindikasi intervensi pihak luar yang akan menjauhkan NU dari para kiai-kiai alim, berilmu dan berpengaruh serta kiai pesantren.
"Jadi ada indikasi bahwa mereka yang membuat draft Ahwa sistem zonasi dan memperbolehkan Ketua Umum PBNU rangkap jabatan itu telah ditunggangi pihak luar yang sangat membahayakan NU," ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE usai mengikuti pertemuan para kiai dan masyayikh di Ndalem Gus Da - panggilan akrab KH Nurul Huda Jazuli - pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026).
"Karena itu semua kiai dari berbagai daerah itu sepakat menolak Ahwa yang dimodifikasi jadi sistem zonasi dan rangkap jabatan ketua umum PBNU," tegas Kiai Asep yang merupakan putrA pendiri NU KH Abdul Chalim dan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.
KH Kholil As'ad Syamsul Arifin Situbondo bahkan minta para kiai sepuh secara tegas menolak intervensi pihak luar dan riswah.
Putra Kiai As'ad Syamsul Arifin juga minta para kiai mendoakan para pelaku riswah dan pihak yang intervensi berikut oknum NU yang berkompromi dengan riswah dan orang luar yang merusak NU agar dihancurkan kehidupan duniawinya oleh Allah SWT.
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, menjelang pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim ulama dan Konfrensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung Sabtu (20/6/2026) nanti malam, sejumlah kiai sepuh bertemu di kediaman KH Nurul Huda Jazuli (Gus Da), tuan rumah Munas-Konbes 2026, di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi tampak hadir tuan rumah KH Nurul Huda Jazuli (Gus Da), Prof Dr KH Ma'ruf Amin, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, dan Prof Dr KH Said Aqil Siroj.
Juga hadir KH Kafabih Mahrus (Lirboyo), KH Ubaidillah Shodaqoh (Rois Syuriah PWNU Jateng), KH Mas'ud Masduki (Rais Syuriah PWNU Yogyakarta),
KH Muhammmad Ali Cholil Rais Syuriah PWNU Kaltim dan KH Ahmad Syatibi Hanbali (Rais Syuriah PWNU Banten).
Sedangkan KH Anwar Manshur (PP Lirboyo yag juga Rais Syuriah PWNU Jatim) serta KH Kholil As'ad Situbondo mengikuti lewat zoom.
Para ulama kharismatik dari berbagai pesantren itu merespons isu krusial tentang manuver sejumlah pihak yang akan mengubah sistem pemilihan Rais 'Aam Ahlul Hall Wal-Aqdi (Ahwa) yang dianggap akan menjauhkan NU dari para ulama dan pesantren karena hanya akan diisi Rais Syuraih.
Seperti diberitakan muncul manuver untuk mengubah dan mereduksi Ahwa menjadi cara sistem zonasi yang mengabaikan para kiai besar dan alim dari berbagai pesantren. (tim)










