SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Dr Dra Nyai Hj Lelly Lailiyah Novianti, MM, menegaskan bahwa Qonun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) yang ditulis Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan way of life bagi warga NU. Menurut Nyai Lelly, di akar rumput NU, Qonun Asasi masih dipegang teguh.
“Bagi NU, Qonun Asasi itu way of life dan nahdlyyin di grass roots masih pegang itu, misalnya mereka masih sangat tawadu kepada kiai,” tegas Nyai Lelly Lailiyah Novianti dalam ujian doktor terbuka di Gedung Aseec Tower Unair Surabaya, Selasa (30/6/2026).
Tapi di tingkat elit struktural tertinggi organisasi (PBNU) justru mulai terjadi pergeseran komitmen sehingga berpotensi merusak NU. Karena itu, istri KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur itu minta agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali ke nilai-nilai Qonun Asasi.
"Kalau dilihat kondisi NU sekarang, saya rasa beberapa orang dari pimpinan NU, maaf pimpinan NU, sudah lupa dengan qonun asasi, agak lupa bahwa qonun asasi adalah way of life nahdliyin," ujarnya.
Ia mengaku pernah ikut suaminya, Gus Kikin, ke suatu daerah dalam acara NU. Gus Kikin, tutur dia, ditanya oleh warga NU. "Kiai, ini bagaimana, apa yang harus kami lakukan di bawah, kalau pembesar-pembesar NU di atas - saya sebut saja ya PBNU - bertikai," katanya menirukan pertanyaan warga NU.
Menurut dia, Gus Kikin menjawab. "NU adalah grassroot, dari bawah NU dibangun, dari bawah NU membesar. Kalau sudah lupa dengan apa yang ditanamkan oleh para muassis - mudah-mudahan tidak terjadi - NU akan rusak," ujar Nyai Lelly mengutip pernyataan sang suami sembari mengatakan bahwa ia bangga dengan suaminya.
Karena itu, menurut dia, pimpinan di PBNU harus kembali ke Qonun Asasi, karena kalau nilai-nilai dari muassis itu dilupakan akan merusak NU, meski NU secara kultural tetap berkembang.
Ia menegaskan bahwa di tingkat grassroot NU tetap memegang nilai-nilai qonun asasi. "Bukan NU yang rusak tapi - sekali lagi - pimpinan PBNU yang perlu kembali ke qonun asasi," ujarnya sembari mengatakan bahwa mereka harus kita ingatkan bersama.
Pernyataan Nyai Lelly itu disampaikan menjawab pertanyaan Dr KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Republik Indonesia, yang dalam ujian doktor terbuka tersebut menjadi salah seorang promotor.
Bagaimana respons Gus Irfan atas jawaban tersebut.
“Ya, jawaban itu yang saya tunggu,” ujar cucu Hadratussyaikh KH M Hasyim Asya’ari itu sembari tersenyum.
Pernyataan Gus Irfan itu langsung disambut tawa dan tepuk tangan para kiai, guru besar serta para undangan yang memenuhi ruangan berkapasitas ratusan orang itu.
Tak pelak, pernyataan berani Nyai Lelly Gus Kikin itu langsung menjadi perbincangan kiai dan tokoh NU.
“Apa yang disampaikan Bu Nyai Lelly itu mewakili keresahan para kiai sepuh, para pengasuh pondok pesantren, para pengurus NU dan warga NU selama ini,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah kepada BANGSAONLINE seusai memimpin doa acara ujian doktor terbuka tersebut.

Dr Dra Nyai Hj Lelly Lailiyah Novianti, MM. Foto: Tebuireng Online
Kiai Asep mengungkap kegundahan Gus Umar Wahid, cucu Hadratussyaikh yang juga hadir dalam acara tersebut. Menurut Kiai Asep, Gus Umar Wahid mengatakan bahwa nasib NU sama dengan nasib Indonesia.
“Masyarakat Indonesia dan pemimpinnya meninggalkan Pancasila, sedangkan PBNU meninggalkan Qonun Asasi,” ujar Kiai Asep menirukan pernyataan Gus Umar Wahid.
Dalam acara itu Gus Umar Wahid memang duduk berdampingan dengan Kiai Asep.
Nyai Lelly lulus dengan predikat cumlaude IPK 39,7 dengan masa studi 2 tahun 10 bulan. Nyai Lelly juga dinobatkan sebagai doktor pertama Prodi Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul: Nilai-Nilai Qonun Asasi Nahdlatul Ulama dalam Politik Hukum Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam disertasinya Nyai Lelly menghadirkan inovasi dalam dunia pendidikan pesantren. Ia menawarkan konsep penguatan pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan sebagai fondasi pengembangan SDM menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Nyai Lelly, pengembangan SDM, tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan kompetensi akademik. Dalam penelitiannya, Nyai Lelly menggunakan model Qonun Asasi NU yang memuat 22 nilai utama yang terbagi dalam tiga dimensi.
Pertama, dimensi keagamaan yang meliputi tauhid, integritas moral, kejujuran, keikhlasan, keberanian, kesabaran, toleransi, moderasi, harmoni, akhlak mulia, adab, dan etika.
Kedua, dimensi pendidikan yang mencakup kebenaran, keilmuan, inklusivitas, profesionalisme, serta dakwah.
Ketiga, dimensi kebangsaan yang meliputi kepemimpinan, demokrasi, kerja sama, musyawarah, persaudaraan, kekeluargaan, dan keadilan.
“Integrasi 22 nilai Qonun Asasi NU dalam TRI VeHTI model menjadi kerangka pengembangan SDM Pesantren yang holistic, adaptif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
Menurut dia, pembentukan karakter santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan terbentuk dari pembelajaran kehidupan pesantren sehari-hari.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter santri lebih banyak dibangun melalui keteladanan kiai, kehidupan di asrama, organisasi santri, dan pengabdian kepada masyarakat. Pembelajaran formal menjadi penting, tetapi internalisasi nilai berlangsung lebih efektif melalui praktik kehidupan sehari-hari,” jelas Lelly.
Nyai Lelly mengatakan bahwa nilai-nilai Qonun Asasi NU tidak hanya penting bagi warga NU. Tapi juga bagi warga diluar NU. Sebab, Qonun Asasi NU merupakan nilai-nilai universal dalam keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.
Menurut Nyai Lelly, untuk membumikan Qonun Asasi NU kepada masyarakat non-NU bisa lewat tiga langkah utama. Pertama, pengenalan 22 nilai Qonun Asasi dengan menggunakan metode Tri-VeHTI atau Vertikal, Horizontal, dan Tradisi-Inovasi (VeHTI).
“Tri VeHTI itu menjabarkan 22 nilai Qonun Asasi NU yakni vertikal atau nilai spiritual (taqwa, ikhlas, amal saleh, hikmah), horizontal atau nilai sosial/etika (sosial: ukhuwah, ta’awwun, ‘adalah, tawasut, maslahah – etika: kejujuran, amanah, tanggung jawab, disiplin, akhlak mulia), dan nilai tradisi/inovasi (tradisi/ intelektual: ilmu, fikrah, ijtihad, ma’rifah – inovasi/profesional: kompetensi, produktivitas, orientasi kemaslahatan, daya saing global),” jelasnya.
Kedua, ungkap Nyali Lelly, melibatkan generasi digital untuk mensyiarkan 22 nilai-nilai Qanun Asasi NU melalui media sosial dan memanfaatkan kecanggihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ketiga, merangkul media massa agar sebarannya semakin luas.
“Jadi, ketiga langkah itu selaras dengan prinsip NU sendiri, yakni al-muhafadzah ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil aslah atau memakai nilai lama yang baik dan memakai nilai baru yang lebih baik," kata Nyai Lelly.
Menurut Nyai Lelly, selama ini ulama NU memasyarakatkan nilai-nilai lewat kitab kuning yang merupakan cara lama. Selain itu para kiai juga menggunakan cara baru seperti ijtihad (bagi ulama) dan bahtsul masail (bagi santri).
"Dengan prinsip ini, saya yakin Qonun Asasi NU akan menjadi semakin universal,” ujarnya.
Nyai Lelly mengaku siap berkeliling untuk merealisasikan ajaran mulia Hadratussyaikh itu. Ia juga berencana menembus jajaran birokrasi pusat demi menyisipkan nilai kultural itu ke sekolah formal.
“Bahkan saya juga akan berikhtiar ke instansi Kemendikterian Pendidikan untuk memasukkan nilai-nilai universalitas dari Qonun Asasi NU itu dalam kurikulum pendidikan,” ujar Nyai Lelly.
Sekedar informasi, Qonun Asasi Nahdlatul Ulama adalah pedoman ideologis dan organisasional yang dirumuskan oleh Hadratussyakh KH Muhammad Hasyim Asy'ari pada tahun 1926. Kitab ini berisi landasan filosofis, amaliah, dan pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menjadi fondasi berdirinya NU.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, ujian doktor terbuka itu dipimpin Rektor Unair Prof Dr Muhammad Madyan dengan 9 promotor dan penyanggah.
Banyak sekali tokoh dan pejabat tinggi yang hadir. Antara lain Gus Umar Wahid, adik kandung Gus Dur. Juga Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).
Juga hadir Wakil Rais Syuriah PBNU, Dr (HC) Drs KH Mohammad Hasib Wahab Chasbullah, Ketua MUI Jawa Timur Prof Dr Abdul Halim Soebahar dan para kiai dari Pesantren Tebuirerng. Antara lain Gus Riza Yusuf Hasyim, Dr KH A Musta’in Syafi’ie, dan lainnya.
Sementara dari kalangan pejabat tinggi yang hadir, antara lain, Menteri Haji dan Umrah RI, Dr KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, MSi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dra Hj Arifatul Choiri Fauzi, MSi, dan mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia, Abdullah Azwar Anas SPd SS MSi.
Selain itu tentu saja keluarga tercinta, terutama sang suami, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) beserta putra-putri serta cucu-cucunya.
Menteri Sosial RI, Drs H Saifullah Yusuf sempat hadir, tapi ia pulang sebelum acara dimulai.










